Goyangan Tanteku Tidak Terlupakan

CeritaPlusPlus757:Sebuah cerita dari pengalaman pribadi yang dibalut dalam Cerita Dewasa tentang Goyangan Tanteku yang Tidak Terlupakan dan juga goyangan ke 2 orang pembatuku.

Saat itu aku baru saja lulus SMA, aku langsung saja melanjutkan kuliah ku di Bandung. Di sana aku tinggal di rumah pamanku. Paman dan juga bibiku dengan senang hati menerimaku tinggal di rumah mereka, karena paman dan bibiku yang sudah 4 tahun menikah belum juga mempunyai seorang anak sampai saat itu, jadi kata mereka biar suasana rumahnya tambah ramai dengan kehadiranku.



Pamanku ini adalah adik kandung ibuku yang paling kecil, saat itu pamanku baru berumur 35 tahun. Rumah pamanku sangat luas, di sana ada kolam renangnya dan juga ada lapangan tenis, maklum lah pamanku ini adalah seorang pengusaha sukses yang kaya. Selain bibi dan pamanku, di rumah itu juga ada 3 orang pembantu, 2 cewek dan satu orang lagi bapak tua berusia setengah abad, yang bertugas sebagai tukang kebun.

Bibiku baru berusia 31 tahun, orangnya sangat lah cantik dengan badannya yang termasuk kecil mungil akan tetapi padat berisi, sangat serasi bentuk badannya seperti gitar spanyol, badannya tidak terlalu tinggi kurang lebih 165 cm. Dadanya yang kecil terlihat padat kencang dan juga agak menantang. Pinggangnya sangat langsing dengan perutnya yang rata, akan tetapi kedua bongkahan pantatnya sangat padat menantang. Wajahnya yang sangat cantik itu, manis benar untuk dipandang. Kulitnya kuning langsat, sangat mulus.

Kedua pembantu cewek tersebut, yang satunya adalah janda berumur 27 tahun bernama yuni dan yang satu lagi lebih muda, baru berumur 18 tahun bernama Ita. Si Ita ini, biarpun masih berumur begitu muda, tapi sudah mempunyai suami dan suaminya tinggal di kampung, bertani katanya.

Suatu hari ketika kuliahku sedang libur, paman dan bibiku sedang keluar kota, aku bangun agak kesiangan dan sambil masih tidur-tiduran di tempat tidur aku mendengar lagu dari radio.
Tiba-tiba saja terdengar ketukan pada pintu kamarku, lalu terdengar suara, “Den Eric.., apa sudah bangun..?” terdengar suara Yuni.
“Yaa.. ada apa..?”  aky jawab.
“Ini Den. Saya bawakan kopi buat Aden..!” sambungnya lagi.
“Oh.. yaa. Bawa masuk saja..!” jawabku lagi.

Kemudian pintu dibuka oleh Yuni, dan terlihat yuni masuk sambil tangannya membawa nampan yang di atasnya secangkir kopi panas dan juga pisang goreng. Ketika Yuni sedang meletakkan kopi dan pisang goreng di meja samping tempat tidurku, badannya agak merapat di pinggir tempat tidur ku dan saat posisi setengah membungkuk, terlihat dengan sangat jelas bongkahan pantatnya yang bagitu montok dengan pinggang yang cukup langsing ditutupi dengan kain yang dipakainya. Melihat pemandangan yang indah itu dengan cepat rasa isengku langsung bangkit, apalagi di dukung juga dengan keadaan rumah yang sangat sepi, maka dengan cepat tanganku bergerak ke bokong yang montok itu dan segera mengelusnya.

Yuni terkejut dan langsung menghindar sambil berkata, “Iihh.., ternyata Den Eric jail juga yaa..!”
Melihat wajah Yuni yang masem-masem itu tanpa memperlihatkan ekspresi marah sedikit pun, dengan cepat aku bangkit dari tempat tidurku dan segera menangkap kedua tangannya.
“Aahh.. jangaann gitu dong Deenn, nanti terlihat sama si Ita, kan malu atuu..!”
Tanpa memperdulikan protesnya, dengan cepat kutarik badannya ke arahku dan sambil memeluknya dengan cepat bibirku menyergap bibirnya yang karena terkejut menjadi agak terbuka, sehingga dengan mudahnya  lidahku menerobos masuk ke dalam mulutnya.

Langsung kusedot bibirnya, dan lidahku kumain-mainkan dalam mulutnya, memutar lidahnya dan mengelus-elus bagian langit-langit mulutnya. Dengan cepat terdengar suara dengusan keluar dari mulutnya Yuni dan kedua matanya melotot memandangku. Dadanya yang montok itu bergerak naik turun dengan cepat, membuat nafsu birahiku semakin meningkat. Tangan kiriku dengan cepatnya mulai bergerilya pada bagian dadanya Yuni yang menonjol itu serta merangsang, mengelus-elus kedua bukit kembar itu kusertai dengan ramasan-ramasan gemas, segera membangkitkan nafsu Yuni juga. Hal itu terlihat dari wajahnya Yuni yang semakin lama semakin memerah dan nafasnya yang semakin ngos-ngosan.

Tiba-tiba saja terdengar suara dari arah dapur dan dengan cepat aku segera melepaskannya, Yuni juga segera membereskan rambut panjangnya dan bajunya yang agak acak-acakan akibat serangan ganasku tadi.
Sambil menjauhi dariku, dia berkata dengan pelan, “Tuhkan.., apa yang Yuni bilang tadi, hampir saja ketahuan, Adeen genit sekali siih..!”
Sebelum Yuni keluar dari kamarku, kubisikan padanya, “Yuni, nanti malam kalau semuanya sudah pada tidur kita lanjutkan yah..?”
“Entar nanti ajalah..!” katanya dengan melempar senyum manis sambil keluar kamarku.

Malamnya sekitar pukul 21.00, setelah semuanya pada tidur, Yuni datang ke ruang tengah, dia hanya memakai pakaian tidur saja yang sangat tipis, sehingga kelihatan CD dan BH-nya.
“Eeh, apa semua sudah pada tidur..?” tanyaku.
“Sudah Den..!” jawabnya.
Untuk membuat suasana lebih panas lagi, aku telah menyiapkan film Bokep yang kebetulan dapat pinjaman dari temanku. Lalu aku mulai menyetel film bokep itu dan ternyata pemainnya antara seorang pria Negro dengan wanita Asia.

Kami melihat adegan demi adegan pada layar TV, semakin lama semakin ‘hot’ saja, pada akhirnya, sampai lah pada adegan dimana keduanya telah telanjang bulat. Laki-laki Negro dengan tubuhnya yang tinggi besar itu, hitam mengkilat apalagi penisnya yang telah tegang itu, benar-benar dasyat, panjang, besar, hitam mengkilat kecoklat-coklatan, sedangkan ceweknya yang kelihatan seperti orang Jepang atau orang Cina, dengan badannya yang kecil mungil tetapi padat, kulitnya sangat putih bersih dan benar-benar sangat kontras dengan pria Negro itu.

Dengan sigapnya laki-laki Negro itu mengangkat cewek itu dan menekan ke tembok. Terlihat dari arah samping penisnya yang panjang hitam itu ditempatkan pada belahan bibir kemaluan cewek itu, yang putih kemerah-merahan. Secara perlahan-lahan mulai ditekan masuk kedalam memeknya, dari mulut cewek itu terdengar desahan panjang dan kedua kakinya menggelepar-gelepar, serta kedua bolah matanya terputar-putar sehingga lebih banyak kelihatan putihnya. Sementara itu penis hitam si Negro itu terlihat makin terbenam ke dalam kemaluan ceweknya, benar-benar suatu adegan yang begitu merangsang. Beberapa menit kemudian terlihat pantat laki-laki Negro itu mulai memompa, semakin lama semakin cepat, sementara cewek itu menggeliat-geliat sambil menjerit-jerit ke enakan.

“Aduuh.., Den. Kasian tu cewek, Negronya kok sadis benar yaah..? Iihh.., ngilu rasanya melihat barang segede itu..!” guman Yuni setengah berbisik sambil kedua bahunya agak menggigil, sedangkan wajahnya tampak mulai memerah dan nafasnya agak tersengal-sengal.
“Wah.., Yuni kan yang gede itu enak rasanya. Coba bayangkan kalau barangnya laki-laki Negro itu mengaduk-aduk itunya Yuni. Bagaimana rasanya..?” sahutku.
“Iih.., Aden jorok kok kali aahh..!” sahut Yuni disertai bahunya yang semakin menggigil, tapi matanya Yuni masih tetap terpaku pada adegan demi adegan yang makin seru saja yang sedang berlangsung di layar TV.

Melihat keadaan Yuni itu, dengan diam-diam aku membuka celana pendek yang kukenakan sekalian saja dengan CD, sehingga batangku yang memang sudah sangat keras itu meloncat sambil mengangguk-anguk dengan bebas. Melihat penisku yang tidak kalah besarnya dengan pemain bokep Negro itu terpampang di hadapannya, kedua tangannya secara refleks menutup mulutnya, dan terdengar jeritan tertahan dari mulutnya.

Lalu kemudian batangku itu kudekatkan ke wajahnya Yuni, karena memang posisi kami pada waktu itu adalah aku duduk di atas sofa, sedangkan Yuni duduk selonjor di lantai sambil bersandar pada sofa tempat kududuk, sehingga posisi batangku itu sejajar dengan kepalanya. Kupegang kepala Yuni dan kutarik mendekat ke arahku, sehingga badan Yuni agak merangkak di antara kedua kakiku. Kepalanya kutarik mendekat pada kemaluanku, dan aku berusaha memasukkan penisku ke mulutnya. Akan tetapi Yuni hanya mau menciuminya saja, lidahnya bermain-main di kepala dan di sekitar batang penisku. Lalu Yuni mulai menjilati kedua buah pelirku, waahh.., geli banget rasanya...

Akhirnya kelihatan Yuni mulai meningkatkan permainannya dan ia mulai menghisap penisku pelan-pelan. Ketika sedang asyik-asyiknya aku merasakan hisapan Yuni itu, tiba-tiba si Ita pembantu yang satunya lagi masuk ke ruang tengah, dan dia terkejut ketika melihat adegan kami. Kami berdua juga sangat kaget, sehingga aktivitas kami jadi terhenti dengan mendadak.

“Ehh.., Ita kamu jangan lapor ke Paman atau Bibi ya..! Awas kalau kamu lapor..!” ancamku.
“Ii.. ii.. iyaa.. Deen..!” jawabnya sambil terbata-bata, matanya setengah melotot melihat kemaluanku yang besar itu tidak tertutup dan masih tegak berdiri.
“Kamu duduk di sini aja sambil nonton film itu..!” ucapku.
Dengan diam-diam ita duduk di lantai sambil matanya tertuju ke layar TV.

Aku kemudian melanjutkan adeganku terhadap Yuni, dengan melucuti semua bajunya Yuni. Yuni terlihat agak malu juga terhadap ita, tetapi melihat ita yang sedang asyik menonton adegan yang berlangsung di layar TV itu, akhirnya ia diam saja membiarkanku melanjutkan adeganku itu.

Setelah bajunya kulepaskan sampai dia telanjang bulat, kutarik badannya ke arahku, lalu dia kurebahkan di sofa panjang. Kedua kakinya tetap terjulur ke lantai, hanya bagian pantatnya ke atas yang tergeletak di sofa. Sambil membuka bajuku, kedua kakinya segera kukangkangi dan aku berlutut di antara kedua pahanya. Kedua tanganku kuletakkan di atas pinggulnya dan jari-jari jempolku menekan pada bibir kemaluannya, sehingga kedua bibir kemaluannya agak terbuka dan aku mulai menjilati permukaan kemaluannya, ternyata kemaluannya sudah sangat basah.
“Deen.., oh Deen..! Uuenaak..!” rintihnya tanpa sadar.

Sambil terus menjilati kemaluannya Yuni, aku melirik si Ita, tapi dia pura-pura tidak melihat apa yang kami lakukan, akan tetapi dadanya terlihat naik turun dan wajahnya terlihat memerah. Tidak berselang lama kemudian badannya Yuni bergetar dengan hebat dan pantatnya terangkat ke atas dan dari mulutnya terdengar desahan panjang. Rupanya dia telah mengalami orgasme. Setelah itu badannya terkulai lemas di atas sofa, dengan kedua kakinya tetap terjulur ke lantai, matanya terpejam dan dari wajahnya terpancar suatu kepuasan, pada dahinya terlihat bitik-bintik keringat yang bercucuran.

Aku lalu berjongkok di antara kedua pahanya yang masih terkangkang itu dan kedua jari jempol dan telunjuk tangan kiriku kuletakkan pada bibir kemaluannya dan kutekan supaya agak membuka, sedang tangan kananku kupegang batang penisku yang telah sangat tegang itu yang berukuran 20 cm, sambil kugesek-gesek kepala penisku ke bibir memek Yuni. Akhirnya kutempatkan kepala penisku pada bibir kemaluan Yuni, yang telah terbuka oleh kedua jari tangan kiriku dan kutekan penisku pelan-pelan. Bles..! mulai kepalanya menghilang pelan-pelan ke dalam memek Yuni diikuti patang penisku, sedikit demi sedikit menerobos ke dalam lobang memeknya Yuni.

Sampai pada akhirnya amblas semua batang penisku, sementara Yuni mengerang-erang keenakan.
“Aduhh.. eennaak.., ennkk Deen. Eenak..!”
Aku menggerakan pinggulku maju dan mundur pelan-pelan, sehingga penisku keluar masuk ke dalam memeknya Yuni. Terasa masih sempit masih memeknya Yuni, kepala dan batang penisku serasa dijepit dan diurut-urut di dalamnya. Amat nikmat rasanya penisku menerobos sesuatu yang kenyal, licin dan sempit. Rangsangan itu sampai terasa pada seluruh badanku sampai ke ujung rambutku.

Aku melirik ke arah Ita, yang sekarang secara terang-terangan telah memandang langsung ke arah kami dan melihat apa yang sedang kami lakukan itu.
“Sini..! Daripada bengong aja mendingan ikutan.., ayo sini..!” kataku pada Ita.
Lalu dengan masih malu-malu si Ita menghampiri kami berdua. Aku ganti posisi, Yuni kusuruh menungging, telungkupkan di sofa. Sekarang dia berlutut di lantai, dimana perutnya terletak di sofa. Aku berlutut di belakangnya dan kedua pahanya kutarik melebar dan kumasukkan penisku dari belakang menerobos ke dalam memeknya. Kugarap dia dari belakang sambil kedua tanganku bergerilya di tubuh Ita.

Kuelus-elus dadanya yang masih terbungkus dengan baju, kuusap-usap perutnya. Ketika tanganku sampai di celana dalamnya, ternyata bagian bawah CD-nya sudah Begitu basah, aku mencium mulutnya lalu kusuruh dia meloloskan blouse dan BH-nya. Setelah itu aku menghisap putingnya berganti-ganti, dia kelihatan sudah sangat terangsang. Kusuruh dia melepaskan semua sisa pakaiannya, sementara pada saat bersamaan aku merasakan penisku yang berada di dalam memek Yuni tersiram oleh cairan hangat dan badan Yuni terlonjak-lonjak, sedangkan pantatnya bergetar. Oohhh.., rupanya Yuni mengalami orgasme lagi pikirku. Setelah badannya bergetar dengan hebat, Yuni pun terkulai lemas sambil telungkup di sofa.

Lalu kucabut penisku dan kumasukkan pelan-pelan ke memek Ita yang telah kusuruh tidur telentang di lantai. Ternyata kemaluan Ita lebih enak dan terasa lubangnya lebih sempit dibandingkan dengan kemaluan Yuni. Mungkin karena Ita masih lebih muda dan jarang ketemu dengan suaminya pikirku.

Setelah masuk semuanya aku baru merasakan bahwa memeknya Ita itu dapat mengempot-empot, penisku seperti diremas-remas dan dihisap-hisap rasanya.
“Uh enak banget memekmu Errr. Kamu apain itu memekmu heh..?” kataku dan Ita hanya senyum-senyum saja, lalu kupompa dengan lebih semangat.
“Den.., ayoo lebih cepat..! Deen.. lebih cepat lagi. Iiih..!” dan kelihatan bahwa Ita pun akan mencapai klimaks.
“Iihh.. iihh.. iihh.. hmm.. oohh.. Denn.. enaakk kali Deen..!” rintihnya terputus-putus sambil badannya mengejang-ngejang.

Aku mendiamkan gerakan penisku di dalam lubang memeknya Ita sambil merasakan ramasan dan empotan memeknya Ita yang lain dari pada lain itu. Kemudian kucabut penisku dari vaginanya Ita, Yuni langsung mendekat dan dikocoknya penisku dengan tangannya sambil dihisap ujungnya. Kemudian gantian Ita yang melakukannya. Kedua cewek tersebut jongkok di depanku dan bergantian menghisap-hisap dan mengocok-ngocok penisku.

Tak lama kemudian aku merasakan penisku mulai berdenyut-denyut dengan keras dan badanku mulai bergetar dengan hebat. Sesuatu dari dalam penisku serasa akan menerobos keluar, air maniku sudah mendesak keluar.
“Akuu ngak tahan niihh.., mauu.. keluaar..!” mulutku mengguman, sementara tangan Erni terus mengocok dengan cepat batang penisku.
Dan beberapa detik kemudian, “Crot.. croot.. croot.. crot..!” air maniku memancar dengan kencang yang segera ditampung oleh mulut Ita dan Yuni.
Empat kali semprotan yang kurasakan, dan kelihatannya dibagi rata oleh Ita dan Yuni. Aku pun terkulai lemas sambil telentang di atas sofa.

Goyangan Tanteku Tidak Terlupakan

Selama sebulan lebih aku bergantian mengerjai keduanya, kadang-kadang barengan juga.
Pada suatu hari paman memanggilku, “wendi Paman mau ke Singapore ada keperluan kurang lebih dua minggu, kamu jaga rumah yaaa..! Nemenin Bibi kamu ya..!” kata pamanku.
“Iya deeh. Aku nggak akan main-main..!” jawabku.
Dalam hatiku, “Kesempatan datang niihh..!”
Bibi tersenyum manis padaku, kelihatan senyumnya itu sangat polos.
“Hhmm.., tak tau dia bahaya sedang mengincarnya..” gumanku dalam hati.
Niatku ingin merasakan tubuh bibi sebentar lagi pasti akan kesampaian.
“Sekarang nih pasti akan dapat kunikmati tubuh Bibi yang bahenol..!” pikirku dalam hati.

Setelah keberangkatan paman, malam harinya selesai makan malam dengan bibi, aku nonton Seputar Indonesia di ruang tengah.
Bibi menghampiriku sambil berkata, “Wendi, badan Bibi agak cape hari ini, Bibi mau tidur duluan yaa..!” sambil berjalan masuk ke kamarnya.
Tadinya aku mau melampiaskan niat malam ini, tapi karena badan bibi kelihatan agak tidak fit, maka kubatalkan niatku itu. Kasihan juga ngerjain bibi dalam keadaan kurang fit dan lagian rasanya kurang seru kalau nanti belum apa-apa bibi sudah lemas. Tapi dalam hatiku aku bertekad untuk dapat menaklukkan bibi pada malam berikutnya.

Malam itu memang tidak terjadi apa-apa, tapi aku menyusun suatu rencana untuk dapat menaklukkan bibi. Pada malam berikutnya, setelah selesai makan malam bersama, bibi langsung masuk ke dalam kamarnya. Selang sejenak dengan diam-diam aku menyusulnya dari belakang. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak dikunci. Sambil ku intip ke dalam, di dalam kamar tidak terlihat adanya bibi, tapi dari dalam kamar mandi terdengar suara air disiram. Rupanya bibi ku sedang berada di dalam kamar mandi, aku pun dengan pelan-pelan langsung masuk ke kamar bibi. lalu kemudian bersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya.

Selang beberapa saat, bibi keluar dari kamar mandi. Setelah itu mengunci pintu kamarnya, bibi langsung mematikan lampu besar, sehingga ruang kamarnya sekarang hanya diterangi oleh lampu tidur yang terdapat di meja, di sisi tempat tidurnya. Kemudian bibi naik ke tempat tidur. Tak lama kemudian terdengar suara napasnya yang berbunyi halus teratur menandakan bibi telah tertidur. Aku segera keluar dari bawah tempat tidurnya dengan hati-hati, takut menimbulkan suara yang akan menyebabkan bibi terbangun.

Kulihat bibi tidur tidak berselimut, karena biarpun kamar bibi memakai AC, tapi kelihatan AC-nya diatur agar tidak terlalu dingin. Posisi tidur bibi telentang dan bibi hanya memakai baju daster merah muda yang tipis. Dasternya sudah terangkat sampai di atas perut, sehingga terlihat CD mini yang dikenakannya berwarna putih tipis, sehingga terlihat belahan kemaluan bibi yang ditutupi oleh rambut hitam halus kecoklat-coklatan. Buah dada bibi yang tidak terlalu besar tapi padat itu terlihat samar-samar di balik dasternya yang tipis, naik turun dengan teratur.

Walaupun dalam posisi telentang, tapi buah dada bibi terlihat mencuat ke atas dengan putingnya yang coklat muda kecil. Melihat pemandangan yang begitu menggairahkan itu aku benar-benar terangsang hebat. Dengan cepat kemaluanku langsung bereaksi menjadi keras dan berdiri dengan gagahnya, siap tempur. Perlahan-lahan kuberjongkok di samping tempat tidur dan tanganku secara hati-hati kuletakkan dengan lembut pada belahan kemaluan bibi yang mungil itu yang masih ditutupi dengan CD. Perlahan-lahan tanganku mulai mengelus-elus kemaluan bibi dan juga bagian paha atasnya yang benar-benar licin putih mulus dan sangat merangsang.

Terlihat bibi agak bergeliat dan mulutnya agak tersenyum, mungkin bibi sedang mimpi, sedang becinta dengan paman. Aku melakukan kegiatanku dengan hati-hati takut bibi terbangun. Perlahan-lahan kulihat bagian CD bibi yang menutupi kemaluannya mulai terlihat basah, rupanya bibi sudah mulai terangsang juga. Dari mulutnya terdengar suara mendesis perlahan dan badannya menggeliat-geliat perlahan-lahan. Aku makin tersangsang melihat pemandangan itu.

Cepat-cepat kubuka semua baju dan CD-ku, sehingga sekarang aku bertelanjang bulat. Penisku yang 20 cm itu telah berdiri kencang menganguk-angguk mencari mangsa. Dan aku membelai-belai buah dadanya, dia masih tetap tertidur saja. Aku tahu bahwa puting dan klitoris bibiku tempat paling suka dicumbui, aku tahu hal tersebut dari film-film bibiku. Lalu tanganku yang satu mulai gerilya di daerah memeknya. Kemudian perlahan-lahan aku menggunting CD mini bibi dengan gunting yang terdapat di sisi tempat tidur bibiku.

Sekarang kemaluan bibiku terpampang begitu jelas tanpa ada penutup lagi. Perlahan-lahan kedua kaki bibi kutarik melebar, sehingga kedua pahanya terpentang. Dengan hati-hati aku naik ke atas tempat tidur dan bercongkok di atas bibi. Kedua lututku melebar di samping pinggul bibi dan kuatur sedemikian rupa supaya tidak menyentuh pinggul bibi. Tangan kananku menekan pada kasur tempat tidur, tepat di samping tangan bibi, sehingga sekarang aku berada dalam posisi setengah merangkak di atas bibi.

Tangan kiriku memegang batang penisku. Perlahan-lahan kepala penisku kuletakkan pada belahan bibir kemaluan bibi yang telah basah itu. Kepala penisku yang besar itu kugosok-gosok dengan hati-hati pada bibir kemaluan bibi. Terdengar suara erangan perlahan dari mulut bibi dan badannya agak mengeliat, tapi matanya tetap tertutup. Akhirnya kutekan perlahan-lahan kepala kemaluanku membelah bibir kemaluan bibi.

Sekarang kepala kemaluanku terjepit di antara bibir kemaluan bibi. Dari mulut bibi tetap terdengar suara mendesis perlahan, akan tetapi badannya kelihatan mulai gelisah. Aku tidak mau mengambil resiko, sebelum bibi sadar, aku sudah harus menaklukan kemaluan bibi dengan menempatkan posisi penisku di dalam lubang memek bibi. Karena itu segera kupastikan letak penisku agar tegak lurus pada kemaluan bibi. Dengan bantuan tangan kiriku yang terus membimbing penisku, kutekan perlahan-lahan tapi pasti pinggulku ke bawah, sehingga kepala penisku mulai menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.

Kelihatan sejenak kedua paha bibi bergerak melebar, seakan-akan menampung desakan penisku ke dalam lubang kemaluanku. Badannya tiba-tiba bergetar menggeliat dan kedua matanya mendadak terbuka, terbelalak bingung, memandangku yang sedang bertumpu di atasnya. Mulutnya terbuka seakan-akan siap untuk berteriak. Dengan cepat tangan kiriku yang sedang memegang penisku, kulepaskan dan buru-buru kudekap mulut bibi agar jangan berteriak. Karena gerakanku yang tiba-tiba itu, posisi berat badanku tidak dapat kujaga lagi, akibatnya seluruh berat pantatku langsung menekan ke bawah, sehingga tidak dapat dicegah lagi penisku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi dengan cepat.

Badan bibi tersentak ke atas dan kedua pahanya mencoba untuk dirapatkan, sedangkan kedua tangannya otomatis mendorong ke atas, menolak dadaku. Dari mulutnya keluar suara jeritan, tapi tertahan oleh bekapan tangan kiriku.
“Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..!” desahnya tidak jelas.
Kemudian badannya mengeliat-geliat dengan hebat, kelihatan bibi sangat kaget dan mungkin juga kesakitan akibat penisku yang besar menerobos masuk ke dalam memeknya dengan tiba-tiba.

Meskipun bibi merontak-rontak, akan tetapi bagian pinggulnya tidak dapat bergeser karena tertekan oleh pinggulku dengan rapat. Karena gerakan-gerakan bibi dengan kedua kaki bibi yang meronta-ronta itu, penisku yang telah terbenam di dalam memek bibi terasa dipelintir-pelintir dan seakan-akan dipijit-pijit oleh otot-otot dalam memek bibiku. Hal ini menimbulkan kenikmatan yang sukar dilukiskan.

Karena sudah kepalang tanggung, maka tangan kananku yang tadinya bertumpu pada tempat tidur kulepaskan. Sekarang seluruh badanku menekan dengan rapat ke atas badan bibi, kepalaku kuletakkan di samping kepala bibi sambil berbisik kekuping bibi.
“Bii.., bii.., ini aku Wendi. Tenang bii.., sshheett.., shhett..!” bisikku.
Bibi masih mencoba melepaskan diri, tapi tidak kuasa karena badannya yang mungil itu teperangkap di bawah tubuhku. Sambil tetap mendekap mulut bibi, aku menjilat-jilat kuping bibi dan pinggulku secara perlahan-lahan mulai kugerakkan naik turun dengan teratur.

Perlahan-lahan badan bibi yang tadinya tegang sudah mulai melemah.
Kubisikan lagi ke kuping bibi, “Bii.., tanganku akan kulepaskan dari mulut bibi, asalkan bibi janji jangan berteriak yaa..?”
Perlahan-lahan tanganku kulepaskan dari mulut bibi.
Kemudian Bibi berkata, “Wendi.., apa yang kau perbuat ini..? Kamu telah memperkosa Bibi..!”
Aku diam saja, tidak menjawab apa-apa, hanya gerakan pinggulku makin kupercepat dan tanganku mulai memijit-mijit buah dada bibi, terutama pada bagian putingnya yang sudah sangat mengeras.

Rupanya meskipun wajah bibi masih menunjukkan perasaan marah terhadap ku, akan tetapi reaksi badannya tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai terangsang itu. Melihat keadaan bibi ini, tempo permainanku kutingkatkan lagi.
Akhirnya dari mulut bibi terdengar suara, “Oohh.., oohh.., sshhh.., sshh.., eemm.., eemm.., wendi.., Wendi..!”
Dengan masih melanjutkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan kedua tanganku bertumpu pada tempat tidur, sehingga aku sekarang dalam posisi setengah bangun, seperti orang yang sedang melakukan push-up.

Dalam posisi ini, penisku menghujam memek bibi dengan bebas, melakukan serangan-serangan langsung ke dalam lubang memek bibiku. Kepalaku tepat berada di atas kepala bibi yang tergolek di atas kasur. Kedua mataku menatap ke bawah ke dalam mata bibi yang sedang meram melek dengan sayu. Dari mulutnya tetap terdengar suara mendesis-desis. Selang sejenak setelah merasa pasti bahwa bibi telah dapat kutaklukan, aku berhenti dengan kegiatanku. Setelah mencabut penisku dari dalam memek bibiku, aku berbaring setengah tidur di samping bibiku. Sebelah tanganku mengelus-elus buah dada bibi terutama pada bagian putingnya.

“Eehh.., Wendi.., kenapa kamu lakukan ini kepada bibimu sendiri..!” ucapnya.
Sebelum menjawab aku menarik badan bibiku menghadapku dan memeluk badan mungilnya dengan sangat hati-hati, tapi lengket ketat ke badan. Bibirku mencari bibirnya, dan dengan gemas kulumat habis. Wooww..! Sekarang bibiku menyambut ciumanku dan lidahnya juga ikut aktif menyambut lidahku yang menari-nari di mulutnya.

Selang sejenak kuhentikan ciumanku itu.
Sambil memandang langsung ke dalam kedua matanya dengan mesra, aku berkata, “Bii.. sebenarnya aku sangat sayang sekali sama Bibi, Bibi sangat cantik dan ayu..!”
Sambil berkata itu kucium lagi bibirnya selintas dan melanjutkan perkataanku, “Setiaap kali melihat Bibi bermesrahan dengan Paman, aku kok merasa sangat cemburu, seakan-akan Bibi adalah milikku, jadi Bibi jangan marah yaa kepadaku, ini kulakukan karena aku tidak bisa menahan diri ingin memiliki Bibi seutuhnya.”
Selesai berkata itu aku menciumnya dengan mesra dan dengan tidak tergesa-gesa.

Ciumanku kali ini sangat lah panjang, seakan-akan ingin menghirup napasnya dan belahan jiwanya masuk ke dalam diriku. Ini kulakukan dengan perasaan penuh cinta kasih yang setulus-tulusnya. Rupanya bibi dapat juga merasakan perasaan sayangku padanya, sehingga pelukan dan juga ciumanku itu dibalasnya dengan tidak kalah mesra juga oleh bibiku.

Beberapa lama kemudian aku menghentikan ciumanku dan aku pun berbaring telentang di samping bibi, sehingga bibi dapat melihat keseluruhan badanku yang telanjang itu.
“Iih.., gede banget barang kamu ya Wendi..! Itu sebabnya tadi Bibi merasa sangat penuh dalam badan Bibi.” ucapnya, mungkin punyaku lebih besar dari punya paman.
Lalu aku mulai memeluknya kembali dan mulai menciumnya. Ciumanku mulai dari mulutnya turun ke leher dan terus kedua buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi padat itu. Pada bagian ini mulutku melumat-lumat dan menghisap-hisap kedua buah dadanya, terutama pada kedua ujung putingnya berganti-ganti, kiri dan kanan.

Sementara aksiku sedang berlangsung, badan bibi menggeliat-geliat kenikmatan. Dari mulutnya terdengar suara mendesis-desis tidak hentinya. Aksiku kuteruskan ke bawah, turun ke perutnya yang ramping, datar dan mulus. Maklum, bibi belum pernah melahirkan. Bermain-main sebentar disini kemudian turun makin ke bawah, menuju sasaran utama yang terletak pada lembah di antara kedua paha putih mulus itu.

Pada bagian kemaluan bibi, mulutku dengan cepat menempel ketat pada kedua bibir kemaluannya dan lidahku bermain-main ke dalam lubang memek bibiku. Mencari-cari dan akhirnya menyapu serta menjilat gundukan daging kecil pada bagian atas lubang kemaluannya. Segera terasa badan bibi bergetar dengan hebat dan kedua tangannya mencengkeram kepadaku, menekan ke bawah disertai kedua pahanya yang menegang dengan kuat.
Keluhan panjang keluar dari mulutnya, “Oohh.., Ween.., oohh.. eunaakk.. Ween..!”

Sambil masih terus dengan kegiatanku itu, perlahan-lahan kutempatkan posisi badan sehingga bagian pinggulku berada sejajar dengan kepala bibi dan dengan setengah berjongkok. Posisi batang kemaluanku persis berada di depan kepala bibi. Rupanya bibi maklum akan keinginanku itu, karena terasa batang kemaluanku dipegang oleh tangan bibi dan ditarik ke bawah. Kini terasa kepala penis menerobos masuk di antara daging empuk yang hangat. Ketika ujung lidah bibi mulai bermain-main di seputar kepala penisku, suatu perasaan nikmat tiba-tiba menjalar dari bawah terus naik ke seluru badanku, sehingga dengan tidak terasa keluar erangan kenikmatan dari mulutku.

Dengan posisi 69 ini kami terus bercumbu, saling hisap-mengisap, jilat-menjilat seakan-akan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan pada satu sama lainnya. Beberapa saat kemudian aku menghentikan kegiatanku dan berbaring telentang di samping bibi. Kemudian sambil telentang aku menarik bibi ke atasku, sehingga sekarang bibi tidur tertelungkup di atasku. Badan bibi dengan pelan kudorong agak ke bawah dan kedua paha bibi kupentangkan. Kedua lututku dan pantatku agak kunaikkan ke atas, sehingga dengan terasa penisku yang panjang dan masih sangat tegang itu langsung terjepit di antara kedua bibir vagina bibiku.

Dengan suatu tekanan oleh tanganku pada pantat bibi dan sentakan ke atas pantatku, maka penisku langsung menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi. Amblas semua batangku.
“Aahh..!” terdengar keluhan panjang kenikmatan keluar dari mulut bibiku.
Aku segera menggoyang pinggulku dengan cepat karena kelihatan bahwa bibiku sudah mau klimaks. Bibi tambah semangat juga ikut mengimbangi dengan menggoyang pantatnya dan menggeliat-geliat di atasku. Kulihat wajahnya yang cantik, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai, sedang kedua buah dadanya yang kecil padat itu bergoyang-goyang di atasku.

Ketika kulihat pada cermin besar di lemari, kelihatan pinggul bibi yang sedang berayun-ayun di atasku. Batang penisku yang besar sebentar terlihat sebentar hilang ketika bibi bergerak naik turun di atasku. Hal ini membuatku jadi makin terangsang. Tiba-tiba sesuatu mendesak dari dalam penisku mencari jalan keluar, hal ini menimbulkan suatu perasaan nikmat pada seluruh badanku.

Kemudian air maniku tanpa dapat ditahan lagi langsung menyemprot dengan keras ke dalam lubang memek bibi, yang pada saat bersamaan pula terasa berdenyut-denyut dengan kencangnya disertai badannya yang berada di atasku bergetar dengan hebat dan terlonjak-lonjak. Kedua tangannya mendekap badanku dengan keras

Pada saat yang bersamaan kami berdua mengalami orgasme dengan sangat dasyat. Akhirnya bibi tertelungkup di atas badanku dengan lemas sambil dari mulut bibi terlihat senyuman puas.
“Ween.., terima kasih wen. Kau telah memberikan Bibi kepuasan sejati..!”

Setelah kami beristirahat, kemudian kami bersama-sama ke kamar mandi dan saling membersihkan diri satu sama lain. kami berpelukan dan berciuman disertai kedua tangan kami yang saling mengelus-elus dan memijit-mijit satu sama lain, sehingga dengan cepat nafsu kami terbangkit lagi. Dengan setengah membopong badan bibi yang mungil itu dan kedua tangan bibi menggelantung pada leherku, kedua kaki bibi kuangkat ke atas melingkar pada pinggangku dan dengan menempatkan satu tangan pada pantat bibi dan menekan, penisku yang sudah tegang lagi menerobos ke dalam lubang memek bibiku.

“Aaughh.. oohh.. oohh..!” terdengar rintihan bibi sementara aku menggerakan-gerakan pantatku maju-mundur sambil menekan ke atas.
Dalam posisi ini, dimana berat badan bibi sepenuhnya tertumpu pada kemaluannya yang sedang terganjel oleh penisku, maka dengan cepat bibi mencapai klimaks.
“Aaduhh.. Ween.. Biiibii.. maa.. maa.. uu.. keluuar.. Ween..!” dengan keluhan panjang disertai badannya yang mengejang, bibi mencapai orgasme, dan selang sejenak terkulai lemas dalam gendonganku.

Dengan penisku masih berada di dalam lubang memek bibi, aku terus membopongnya. Aku membawa bibi ke tempat tidur. Dalam keadaan tubuh yang masih basah kugenjot bibi yang telah lemas dengan sangat bernafsu, sampai aku orgasme sambil menekan kuat-kuat pantatku. Kupeluk badan bibi erat-erat sambil merasakan airmaniku menyemprot-nyemprot, tumpah dengan deras ke dalam lubang kemaluan bibi, mengisi segenap relung-relung di dalamnya.

Semalaman itu kami masih melakukan persetubuhan beberapa kali, dan baru berhenti kecapaian menjelang fajar. Sejak saat itu, selanjutnya seminggu minimum 4 kali kami secara sembunyi-sembunyi bersetubuh, diselang seling mengerjai si Yuni dan Ita apabila ada waktu luang. Hal ini berlangsung terus tanpa paman mengetahuinya sampai saya lulus serjana dan harus pindah ke Jakarta, karena diterima kerja di suatu perusahaan asing.

Demikian lah artikel saya kali ini Goyangan Tanteku yang Tidak Terlupakan oleh ku, semoga anda terinpirasi setelah membaca artikel saya ini.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.