Hilangnya Perawanku di Penginapan
Cerita PlusPlus757:Hilangnya Perawan di Penginapan- Pengalaman ini terjadi sekitar awal bulan Agustus tahun 2016. Pengalaman ini tidak ku karang sendiri tapi berdasarkan cerita asli yang kualami di tahun 2016 ini. Cerita panas nyata yang di publis oleh situs CeritaPlusPlus757, ini bermula saat aku berkenalan dengan seorang cowok, sebut saja namanya Widi. Orangnya tampan, tinggi sekitar 175 cm, dan tubuhnya berotot. Pokoknya sesuai dengan pria idamanku lah.
Perbedaan umur kami sekitar 8 tahun, dan dia baru saja lulus dari universitas swasta terkenal di daerah Jakarta. Kami berkenalan pada saat aku sedang mempersiapkan acara untuk perpisahan kelas 3 di SMA-ku. SMA ku di kawasan Jakarta Barat. Dan pada saat itu Widi sedang menemani adiknya yang kebetulan panitia perpisahan SMA kami. Pada saat itu Widi hanya melihat-lihat persiapan kami dan duduk di ruangan sebelah.
Oh ya, sampai lupa memperkenalkan diri. Perkenalkan nama panggilanku Maulida. umurku 17 tahun kelas 3 SMA. Tinggiku lumayan sekitar 169 cm dan warna kulitku kuning bersih. Rambutku pendek sebahu, dan dadaku tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil juga. Sangat proporsional antara tinggi dan berat badanku. Kata orang-orang aku sangat cocok untuk seorang model. Dan aku belum mempunyai pacar. Aku anak ke 3 dari 4 bersaudara dan semua perempuan.
Kakak-kakakku semua sudah mempunyai pacar, kecuali adikku yang paling kecil kelas dua SMP. OK dilanjut ya
Akhirnya pada saat istirahat siang, inilah pertama kalinya kami ngobrol-ngobrol. Dan pada saat kenalan tersebut kami sempat menukar nomor telepon rumah. Kira -kira 3 hari kemudian, Widi menelepon ke rumahku.
“Hallo selamat sore, bisa bicara dengan Maulida, ini dari Widi.”
“Ada apa, kok tumben mau nelepon ke sini, aku kira sudah lupa.”
“Gimana kabar kamu, mana mungkin aku lupa. Hmm, Maulida ada acara nggak malam minggu ini.”
Aku sempat kaget Widi mengajakku keluar malam minggu ini. Padahal baru beberapa hari ini kenalan tapi dia sudah berani mengajakku keluar. Ah, biarlah, cowok ini memang idamanku kok.
“Hmmm… belum tau, mungkin nggak ada, dan mungkin juga ada,” jawabku.
“Kenapa bisa begitu,” balas Widi.
“Ya, kalaupun ada bisa dibatalin seandainya kamu ngajak keluar, dan kalo batal acaranya aku bakalan akan nggak terima telpon kamu lagi,” balasku lagi.
“Ooo begitu, kalau gitu aku jemputnya ke rumahmu, sabtu sore, kita jalan-jalan aja. Di mana alamat rumahmu.”
Kemudian aku memberikan alamat rumahku di kawasan Maruya. Dan ternyata rumah Widi tidak begitu jauh dari rumahku. Ya, untuk seukuran Jakarta, segala sesuatunya dihitung dengan waktu bukan jarak.
Tepat hari sabtu sore, Widi datang dengan kendaraan dan parkir tepat di depan rumahku. Setelah tiga puluh menit di rumah, ngobrol -ngobrol dan pamitan dengan orang rumah, akhirnya kami meninggalkan rumah dan belum tahu mau menuju ke mana. Di dalam mobil kami berdua, ngobrol sambil ketawa-ketawa dan tiba-tiba Widi menghentikan mobilnya tepat di lapangan tenis yang ada di kawasan Jakarta Barat.
“Maulida, kamu cantik sekali hari ini, boleh aku mencium kamu,” bisik Widi mesra.
“Wid, kita baru saja berkenalan, dan kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu sebenarnya, jangan-jangan kamu sudah punya pacar.”
“Kalo aku sudah punya pacar, sudah pasti malam minggu ini aku ke tempat pacarku.”
“Wid, terus terang semenjak pertama kali melihat kamu aku langsung tertarik.”
Tiba-tiba tangan Widi memegang tanganku dan meremasnya kuat -kuat.”Aku juga Maulida, begitu melihat kamu langsung tertarik.”
Akibat Tergoda Dengan Ke tampanan Hilangnya Perawan di Penginapan
Dan Widi menarik tanganku hingga badanku ikut tertarik, lalu Widi memelukku erat-erat dan mencium rambutku hingga telingaku. Aku merinding dan tiba-tiba tanpa kusadari bibir Widi sudah ada di depan mataku. Dan pelan-pelan Widi mencium bibirku. Pertama-tama, sempat kulepaskan. Karena inilah pertama kali aku dicium seorang laki-laki. Dan tanpa pikir panjang lagi, aku yang langsung menarik badan Widi dan mencium bibirnya. Ciuman Muki sepertinya sudah ahli sekali dan membuatku begitu bernafsu untuk menarik lidahnya. Oh.. betapa nikmatnya malam ini. Dan, lama-kelamaan tangan Muki mulai meraba sekitar dadaku.
“Jangan Wid, aku tidak mau secepat ini, lagi pula kita melakukannya di depan jalan, aku malu Wid,” jawabku.
Sebenarnya aku ingin dadaku diremas oleh Widi karena aku sudah mengidam-idamkan dan sudah membayangkan apa yang akan terjadi berikutnya.
“Maulida, bagaimana kalau kita nonton aja. Sekarang masih jam setengah delapan dan film masih ada kok.”
Akhirnya aku setuju. Di dalam bioskop kami mencari tempat posisi yang paling bawah. Widi sepertinya sudah sangat pengalaman dalam memilih tempat duduk. Dan begitu film diputar, Widi langsung melumat bibirku yang tipis. Lidah kami saling beradu dan aku membiarkan tangan Widi meraba di sekitar dadaku. Walaupun masih ditutupi dengan baju.
Tiba-tiba Widi membisikkan sesuatu di telingaku, “Maulida, kamu sudah membuat nafsuku naik.”
“Aku juga Wid,” balasku dengan manja.
Dan Widi menarik tanganku dan mengarahkan tanganku ke arah batangnya. “Astaga,” pikirku. Ternyata diluar dugaanku, penis Widi sudah sangat tegang sekali. Dan aku tidak menyia-nyiakan kesempatan yang pertama kali ini. “Teruskan maulida, remas yang kuat dan lebih kuat lagi.” Tak lama kemudian, tangan Widi sudah berhasil membuka bajuku. Kebetulan saat itu aku memakai kemeja kancing depan. Sehingga tidak terlalu susah untuk membukanya.
Kebetulan aku memakai BH yang dibuka dari depan.
Akhirnya tangan Widi berhasil meremas susuku yang baru pertama kali ini dipegang oleh seseorang yang baru kukenal. Widi meremasnya dengan lembut sekali dan sekali-kali Widi memegang puting susuku yang sudah keras.
“Teruskan Widi, aku enak sekali..” Dan tanpa sengaja aku pun sudah membuka reitsleting celananya, yang pada saat itu memakai celana kain. “Astaga,” pikirku sekali lagi, tanganku dibimbing Widi untuk memasuki celana dalam yang dipakainya. Dan sesaat kemudian aku sudah meremas-remas penis Widi yang sangat besar. Kami saling menikmati keadaan di bioskop waktu itu. “Teruskan Widi, aku enak sekali..” Tidak terasa film yang kami tonton berlalu dengan cepat. Dan akhirnya kami keluar dengan perasaan kecewa.
“Kita langsung pulang ya Maulida sudah malam,” pinta Widi.
“Wid, sebenarnya aku belum mau pulang, lagian biasanya kakak-kakakku kalau malam mingguan pulangnya jam 11:30 malam, sekarang masih jam 10:00, kita keliling-keliling dulu ya.” bisikku mesra.
Sebenarnya dalam hatiku ingin sekali mengulang apa yang sudah kami lakukan tadi di dalam bioskop. Namun rasanya tidak enak bila kukatakan pada Widi. Mudah-mudahan Widi mengerti apa yang kuinginkan.
“Ya, sudah kita jalan-jalan ke senayan aja, sambil ngeliat orang-orang yang lagi bingung juga,” balas Widi dengan nada gembira. Sampai di senayan, Widi memarkirkan mobilnya tepat di bawah pohon yang jauh dari mobil lainnya. Dan setelah Widi menghentikan mobilnya, tiba-tiba Widi langsung menarik wajahku dan mencium bibirku. Kelihatannya Widi begitu bernafsu melihat bibirku. Sebenarnya inilah waktu yang kutunggu-tunggu. Kami saling melumat bibir dan permainan lidah yang kami lakukan membuat gairah kami tidak terbendung lagi.
Tiba-tiba Widi melepaskan ciumannya.
“Maulida, aku ingin mencium susumu, bolehkan..”
Tanpa berkata sedikit pun aku membuka kancing kemejaku dan membuka kaitan BH yang kupakai. Terlihat dua gundukan yang sedang mekar -mekarnya dan aku membiarkannya terpandang sangat luas di depan mata Widi. Dan kulihat Widi begitu memperhatikan bentuk bulatan yang ada di depan matanya. Memang susuku belum begitu tumbuh secara keseluruhan, tapi aku sudah tidak sabar lagi untuk dicium oleh seorang lelaki.
“Maulida, apa ini baru pertama kali ada yang memegang yang menciumi susumu,” bisik Widi.
“Iya, Wid, baru kamu yang pertama kali, aku memberikan ke orang yang benar -benar aku inginkan,” balasku manja.
Anda Pengin Nonton Bokep Online Gratis
klik Sini : filembokep.net
Tak lama kemudian, Widi dengan lembutnya menciumi susuku dan memainkan lidahnya di seputar puting susuku yang sedang keras. Aduh enak sekali rasanya. Inilah waktu yang tunggutunggu sejak lama. Nafsuku langsung naik pada saat itu.
“Jangan berhenti Wid, teruskan ya… aku enak sekali..” Dan tanganku pun dibimbing Wid untuk membuka reitsleting celananya. Dan aku membukanya.
Kemudian Wid mengajak pindah tempat duduk dan kami pun pindah di tempat duduk belakang. Sepertinya di belakang kami bisa dengan leluasa saling berpelukan. Baju kemejaku sudah dilepas oleh Widi dan yang tertinggal hanya BH yang masih menggantung di lenganku. Reitsleting celana Widi sudah terbuka dan tiba-tiba Widi menurunkan celananya dan terlihat jelas ada tonjolan di dalam celana dalam Widi. Dan Widi menurunkan celana dalamnya. Terlihat jelas sekali penis Widi yang besar dan berwarna kecoklatan. Ditariknya tanganku untuk memegang penisnya. Dan aku tidak melepaskan kesempatan tersebut. Widi masih terus menjilati susuku dan sekali-kali Widi menggigit puting susuku.
“Wid, teruskan ya… jilat aja Wid, sesukamu..” desahku tak karuan.
Hilangnya Perawan di Penginapan Oleh Widi di Lapangan Tenis
Sementara aku masih terus memegang penis Widi. Dan sepertinya Widi makin bernafsu dengan permainan seksnya. Akhirnya Widi sudah tidak tahan lagi.
“Maulida, kamu isap punyaku ya… mau nggak?”
“Isap bagaimana..”
“Tolong keluarin punyaku di mulutmu.”
Sebenarnya aku masih bingung, tapi karena penasaran apa yang dimaui Widi, maka aku menurut saja apa permintaannya. Dan Widi merubah posisi duduknya, Widi menurunkan kepalaku hingga aku berhadapan langsung dengan kontolnya Widi.
“Widi, besar sekali punyamu.”
“Langsung aja maulida, aku sudah tidak tahan..”
Aku langsung mengulum pelan-pelan kepunyaan Widi. Inilah pertama kali aku melihat, memegang dan mengisap dalam satu waktu. Aku menjilati dan kadang kutarik dalam mulutku kepunyaan Widi. Sekali-kali kujilati dengan lidahku. Dan sekali-kali juga kujilati dan kuisap buah kepunyaan Widi. Aku memang menikmati yang namanya penis. Mulai dari atas turun ke bawah. Dan kuulangi lagi seperti itu. Dan kepala penis kepunyaan Widi aku jilatin terus. Ah… benar-benar nikmat.
Sekitar lima menit aku menikmati permainan punya Widi, tiba-tiba, Widi menahan kepalaku dan menyuruhku mengisap lebih kuat. “Terus Maulida, jangan berhenti, terus isap yang kuat, aku sudah tidak tahan lagi..” Dan tidak lama setelah itu, Widi mengerang keenakan dan tanpa sadar, keluar cairan berwarna putih dari penis Widi. Apakah ini yang namanya sperma, pikirku. Dalam keadaan masih keluar, aku tidak bisa melepaskan penis Widi dari mulutku, aku terus mengisap dan menyedot sperma yang keluar dari penis Widi.
Ah… rasa dan aromanya membuatku ingin terus menikmati yang namanya sperma. Aku pun tidak bisa melepaskan kepalaku karena ditahan oleh Widi. Aku terus melanjutkan isapanku dan aku hanya bisa melebarkan mulutmu dan sebagian cairan yang keluar tertelan di mulutku. Dan Muki kelihatan sudah enak sekali dan melepaskan tangannya dari kepalaku.
“Maulida, aku sudah keluar, banyak ya..”
“Banyak sekali Widi, aku tidak sanggup untuk menelan semuanya, karena aku belum biasa.”
“Tidak apa-apa Maulida..”
Kemudian Widi mengambil cairan yang terbuang di sekitar penisnya dan menaruh ke susuku. Aku pun memperhatikan kelakuan Widi. Dan Widi mengelus-elus susuku. Akhirnya jam sudah tepat jam 11 malam. Dan aku diantar oleh Widi tepat jam 11 lewat 35 menit. Karena besoknya kami berjanji akan ketemu lagi. Malamnya entah mengapa aku sangat sulit sekali tidur. Karena pengalamanku yang pertama membuatku penasaran, entah apa yang akan kulakukan lagi bersama Widi esoknya.Dan, malam itu aku masih teringat akan penis Widi yang besar dan aroma sperma serta ingin rasanya aku menelan sekali lagi. Ingin cepat-cepat kuulangi lagi peristiwa malam itu.
Besoknya dengan alasan ada pertemuan panitia perpisahan, aku akhirnya bisa keluar rumah.Akhirnya sesuai jam yang sudah ditentukan, Widi menjemputku dan Widi membawaku ke suatu tempat yang masih teramat asing buatku.
“Tempat apa ini Widi,” tanyaku.
“Maulida, ini tempat kencan, daripada kita kencan di mobil lebih bagus kita ke sini aja, dan lebih
aman dan tentunya lebih leluasa. Kamu mau.”
“Entahlah Widi, aku masih takut tempat seperti ini.”
“Kamu jangan takut, kita tidak keluar dari mobil. Kita langsung menuju kamar yang kita pesan.”
Dan sampai di garasi mobil, kami keluar, dan di garasi itu hanya ada satu pintu. Sepertinya pintu itu menuju ke kamar. Benar dugaanku. Pintu itu menuju ke kamar yang sudah dingin dan nyaman sekali, tidak seperti yang kubayangkan. Terlihat ada kulkas kecil, kamar mandi dengan shower, dan TV 21, dan tempat tidur untuk kapasitas dua orang.
“Maulida, kita santai di sini aja ya… mungkin sampai sore atau kita pulang setelah magrib nanti, kamu mau..” pinta Widi.
“Aku setuju saja Widi, terserah kamu.”
kalian Juga Bisa Download Film Bokep Gratis Tanpa Bayar
Disini Linknya: download.filembokep.net
Setelah makan siang, kami ngobrol-ngobrol dan Widi membaringkan badanku di tempat tidur. “Maulida, kamu mau kan melakukannya sekali lagi untukku.” Aku setuju. Sebenarnya inilah yang membuatku berpikir malamnya apa yang akan kami lakukan berikutnya. Widi berdiri di depanku, dan melepaskan kancing kemejanya satu persatu, dan membuka celana panjang yang dipakainya. Terlihat sekali lagi dan sekarang lebih jelas lagi kepunyaan Widi daripada malam kemarin. Ternyata kontolnya Widi lebih besar dari yang kubayangkan. Dan, dalam sekejap Widi sudah terlihat bugil di depanku.
Hilangnya Perawan di Penginapan Yang Tak Terlupakan
Widi memelukku erat-erat dan membangunkanku dari tempat tidur. Sambil mencium bibirku, Widi menarik ke atas baju kaos ketat yang kupakai. Dan memelukku sambil melepaskan ikatan BH yang kupakai. Dan pelan-pelan tangan Widi mengelus susuku yang sudah keras. Dan lama -kelamaan tangan Widi sudah mencapai reitstleting celanaku dan membuka celanaku. Dan menurunkan celana dalamku. Aku masih posisi berdiri, dan Widi jongkok tepat di depan vaginaku. Widi memandangku dari arah bawah. Sambil tangannya memeluk pahaku.
“Maulida, bodi kamu bagus sekali.”
Widi sekali lagi memperhatikan bulu-bulu yang tidak terlalu lebat dan menciumi aroma vaginaku.
“Maulida, seandainya hari ini perawanmu hilang, kamu bagaimana.”
“Terserah kamu Widi, aku tidak peduli tentang perawanku, aku ingin menikmati hari ini, denganmu berdua, dan aku kepengen sekali melakukannya denganmu..” Akhirnya aku pasrah apa yang dilakukan oleh Widi.
Kemudian Widi meniduriku yang sudah tidak memakai apa-apa lagi. Kami sudah sama-sama bugil. Dan tidak ada batasan lagi antara kami. Widi bebas menciumiku dan aku juga bebas menciumi Widi. Kami melakukannya sama-sama dengan nafsu kami yang sangat besar. Baru pertama kali ini aku melakukannya seperti hubungan suami istri. Widi menciumi seluruh tubuhku mulai dari atas turun ke bawah. Begitu bibir Widi sampai di vaginaku yang sudah sangat basah, terasa olehku Widi membuka lebar vaginaku dengan jari-jarinya.
Ah… nikmat sekali. Seandainya aku tahu senikmat ini, ingin kulakukan dari dulu. Ternyata Widi sudah menjilati klitorisku yang panjang dan lebar. Dengan permainan lidahnya di vaginaku dan tangan Widi sambil meremas susuku dan memainkan putingku, aku rasanya sudah sangat enak sekali. Sepertinya tidak kusia-siakan kenikmatan ini tiap detik. Widi sekali-kali memasukan jarinya ke vaginaku dan memasukkan lidahnya ke vaginaku.
Akhirnya dengan nafsu yang sudah tidak bisa kutahan lagi, kukatakan pada Widi.
“Wid, masukkan punyamu ke punyaku ya… masukannya pelan -pelan,” pintaku.
Widi lalu bangkit dari arah bawah. Dan menciumi bibirku.
“Maulida, kamu sudah siap aku masukkan, apa kamu tidak menyesal nantinya.”
“Tidak Widi, aku tidak menyesal. Aku sudah siap melakukannya.”
Lalu Widi melebarkan kakiku dan terlihat jelas sekali punya Widi yang sangat besar sudah siap-siap untuk masuk ke punyaku. Vaginaku sudah basah sekali. Dan kubimbing penis Widi agar tepat masuk di lubang vaginaku. Pertama-tama memang agak sakit, tapi punyaku sepertinya sudah tidak terasa lagi akan sakit yang ada, lebih banyak nikmatnya yang kurasakan. Dengan dorongan pelan dan pelan sekali, akhirnya punya Widi berhasil masuk ke dalam lorong kenikmatanku.
“Oh… enak sekali,” jeritku.
Terasa seluruh lorong dan dinding vaginaku penuh dengan penis besar punya Widi. Dengan sekali tekan dan dorongan yang sangat keras dari penis Widi, membuat hari itu aku sudah tidak perawan lagi. Widi membisikkan sesuatu di telingaku, “Maulida, kamu sudah tidak perawan lagi.”
“Ngga apa-apa Widi, jangan dilepas dulu ya…”
“Terus Widi, goyang lebih kencang, aku enak sekali..” Dengan posisi aku di bawah, Widi di atas, kami melakukannya lama sekali. Widi terus menciumi susuku yang sudah keras, penis Widi masih terbenam di vaginaku. Akhirnya puncak kenikmatanku yang pertama keluar juga.
“Widi sepertinya aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar.”
“Keluarin terus Maulida, aku tidak akan melepaskan punyaku.”
“Widi, aku tidak tahan lagi… a..ahh… aaahh.. aku keluar Wid, aku keluar.. keluar Muk..enaak sekali, jangan berhenti, teruskan… aaaa… aaaa..” Pada saat orgasme yang pertama, Widi langsung menciumi bibirku. Oh… benar -benar luar biasa sekali enaknya.
Akhirnya aku menikmati kehangatan punya Widi dan aku masih memeluk badan Widi. Walaupun udara di kamar itu sangat dingin, tapi hawa yang kami keluarkan mengalahkan udara dingin.
“Maulida, aku masih mau lagi, tidak akan kulepaskan… sekarang aku mau posisi enam sembilan. Kamu isap punyaku dan aku isap punyamu.”
Kemudian kami berubah posisi ke enam sembilan. Widi bisa sangat jelas mengisap punyaku. Dan kelihatan kliotorisku yang sangat besar dan panjang.
“Maulida punyamu lebar sekali.”
“Isap terus Widi, aku ingin mengeluarkan sekali lagi dan berkali-kali.”
Aku terus mengisap punya Widi sementara Widi terus menjilati vaginaku dan kami melakukannyasangat lama sekali. Penis Widi yang sudah sangat keras sekali membuatku bernafsu untuk melawannya. Dan permainan mulut Widi di vaginaku juga membuatku benar-benar terangsang dan sepertinya saat-saat seperti ini tidak ingin kuakhiri.
“Widi… aku mau keluar lagi… aku tidak tahan lagi honey…”
“Tahan sebentar Maulida, aku juga mau keluar..”
Tiba-tiba Widi langsung merubah posisi. Aku di bawah dan dia di atas. Dengan cepat Widi melebarkan kakiku, dan oh.. ternyata Widi ingin memasukkan penisnya ke vaginaku. Dan sekali lagi Widi memasukkan penisnya ke vaginaku. Walaupun masih agak sulit, tapi akhirnya lorong kenikmatanku dapat dimasuki oleh penis Widi yang besar.
“Dorong yang keras Widi, lebih keras lagi,” desahku. Widi menggoyangan badannya lebih cepat lagi.
“Iya Widi, seperti itu… terus… aaa..aaa… enak sekali, aku mau melakukannya terus menerus denganmu..”
“Maulida, aku sudah tidak tahan lagi… aku mau keluar…”
“Aku juga Widi, sedikit lagi, kita keluar sama -sama ya… aaa..”
“Maulida… aku keluar..”
“Aku juga Widi… aaa… aa… terasa Widi, terasa sekali hangat spermamu..”
“Aduh, Maulida… goyang terus Maulida, punyaku lagi keluar…”
“Aduh Widi… enak sekali…”
Bibirku langsung menciumi bibir Widi yang lagi dipuncak kenikmatan. Tak lama kemudian kami sama-sama terdiam dan masih dalam kehangatan pelukan. Akhirnya kami mencapai kenikmatan yang luar biasa. Dan sama-sama mengalami kenikmatan yang tidak bisa diukur.
“MaUlida… spermaku sekarang ada di dalam punyamu.”
“Ia Widi…”
Tidak lama kemudian, Widi membersihkan cairan spermanya di vaginaku.
“Maulida, kalo kamu hamil, aku mau bertanggungjawab.”
“Iya Widi..” jawabku singkat.
Akhirnya kami mandi sama-sama. Di kamar mandi kami melakukannya sekali lagi, dan aku mengalami kenikmatan sampai dua kali. Sekali keluar pada saat widi menjilati vaginaku dan sekali lagi pada saat Widi memasukkan penisnya ke vaginaku. Widi pun mengalami hal yang sama.
Sorenya kami melakukannya sekali lagi. Kali melakukannya berulang kali. Dan istirahat kami hanya sebentar, tidak sampai satu jam kami sudah melakukannya lagi. Benar-benar luar biasa. Aku pun tidak tahu kenapa nafsuku begitu bergelora dan tidak mau berhenti. Kalau dihitunghitung dalam melakukan hubungan badan, aku sudah keluar 8 kali orgasme. Dan kalau hanya sekedar diisap oleh Widi hanya 3 kali. Jadi sudah 11 kali aku keluar. Sementara Widi sudah 7 kali.
Malamnya tepat jam 8.30 kami keluar dari penginapan. Padahal jika dipikir-pikir, hanya dalam waktu dua hari saja aku sudah melepaskan keperawananku ke seseorang. Dan sampai sekarang hubunganku dengan Widi bukan sifatnya pacaran, tapi hanya bersifat untuk memuaskan nafsu saja. Dan, baru kali ini aku bisa merasakan tidur yang sangat pulas sesampainya di rumah.
Besoknya aku harus sekolah seperti biasa dan tentunya dengan perasaan senang dan ingin melakukannya berkali-kali. Seperti biasa setiap tanggal 20, aku datang bulan. Dan kemarin (tanggal 20 Agustus 2016) ini aku masih dapat. Aku langsung menelepon Widi sepulang dari sekolah.
“Widi, aku dapat lagi, dan aku tidak hamil.”
“Iya Maulida… syukurlah…”
“Widi, aku ingin melakukannya sekali lagi, kamu mau Widi..”
Dan, ternyata kami bisa melakukannya di mana saja. Kadang aku mengisap penis Widi sambil Widi menyetir mobil yang lagi di jalan tol. Dan setelah cairan sperma Widi keluar yang tentunya semua kutelan, karena sudah biasa, setelah itu tangan Widi memainkan vaginaku. Kadang juga sebelum pulang aku tidak lagi mencium bibir Widi, tapi aku mengisap kepunyaan Widi sebelum turun dari mobil, hanya sekitar 2 menit, Widi sudah keluar. Dan aku masuk rumah masih ada sisa-sisa aroma sperma di mulutku.
Di tiap pertemuan kami berdua selalu saling mengeluarkan. Jika kami ingin melakukan hubungan badan, biasanya kami menyewa penginapan dari siang sampai sore dan hanya dilakukan tiap hari sabtu karena pada saat itu sepulang sekolah Widi langsung mengajakku ke penginapan.
Hilangnya Perawanku di Penginapan membuat aku selalu ketagihan ingin di masukan oleh penisnya widi.

Leave a Comment