Lia Tukang Pijit Nikmat

Cerita PlusPlus 757:Lia Tukang Pijit- Suatu siang, setelah pulang kerja aku ngerasa badan sangat pegel-pegal dan juga capek banget. Pengen rasanya pijit untuk membuat rileks badan ku ini, pikirku. Dan akupun mulai mencari info dari tetangga pemijat yang biasanya bisa dipanggil. Bukan yang plus-plus lo…niat dari awalnya, biasa di kampung gak ada apa-apa, yang banyak malah tukang pijit panggilan aja. Karena tukang pijit yang biasanya dipanggil sama nyokap sudah meninggal karena udah tua.

Cerita PlusPlus 757 Jadi saya kelabakan mencari tukang pijit pengganti. Akhirnya aku mendapatkan info dari teman ada tukang pijit yang memang jago memijit dan masih muda juga. Sebetulnyanya aku tidak terlalu mempermasalahkan umur sih, karena yang aku butuhkan saat itu memang pijit yang sebenarnya yang bukan plus-plus. Akupun langsung diantar temanku itu kerumah si pemijat, di sebut saja si pemijat tersebut Mbak Lia.


Setelah bertemu dengannya , maka si Mbak Lia itu bisa dipanggil untuk memijat dirumahku keesokan harinya. Kami pun sudah sepakat keesokan harinya pada jam 9 pagi, Mbak Lia akan segera datang kerumah. Pada awal bertemu tidak ada kesan istimewa yang menarik perhatianku. Hanya saja, memang si Mbak Lia ini masih muda dan juga cantik. Berumur sekitar 27 tahun, janda muda tanpa anak pula, begitu info yang berhasil kudapat dari teman ku.

Soal fisik sih, saat kami bertemu , tidak terlalu mencolok karena Mbak Lia tidak terlalu menonjolkan bentuk tubuhnya itu… Hanya saja, ia berkulit coklat , rambut panjang , wajahnya cantik alami. Sesampai dirumah akupun tidak ada pikiran apapun soal mbak Lia. Keesokan harinya,jam 9 pagi sesuai kesepakatan, Mbak Lia datang kerumah yang kebetulan hari itu sedang kosong. Aku mempersilahkan masuk, dan kami pun berbincang sebentar. Mbak Lia kulihat hari itu hanya mengenakan pakaian yang lebih mirip daster menurutku.
Karena memang rumahnya tidak seberapa jauh dari rumahku. Setelah berbincang sebentar, kamipun langsung masuk ke kamar untuk prosesi pijat. Aku yang hari itu memang hanya mengenakan boxer, cuek saja. Karena memang saat tidur kadang aku hanya mengenakan boxer tanpa CD. Setelah di dalam kamar, aku yang hanya mengenakan boxer saja langsung berbaring tengkurap. Mbak Lia yang telah mempersiapkan minyak dan segala macamnya, tampak mulai memegang telapak kakiku. Mbak Lia mulai memijat bagian kakiku hingga ke paha sampai selangkangan. Terus terang ini membuatku sedikit horny. Aku pun mengajaknya ngobrol,dari pada horny…pikirku.

“Mbak udah lama ya terjun di dunia pijat memijat ?” tanyaku sambil bercanda. “Ya,lumayan,mas.. sejak cerai sama suami,saya harus mencukupi kebutuhan hidup. Salah satunya ya jadi tukang pijat, mas. Karena pendidikan saya kurang, dan keterampilan saya cuma mijat aja, mas.”, jelas Mbak Lia. “Ohh…Mbak udh cerai ya… Maaf lo saya gak tau,Mbak…”,sahutku. “Gak apa-apa, mas…”katanya. Kurasakan jari Mbak Lia yang memijat bagian selangkangan terkadang menyentuh “bola kesayangan”. “Kontol” mulai menggeliat,aku mencoba menahan.

Lia Tukang Pijit Yang Nikmat

Mbak Lia mulai memijit daerah punggung, dia tampak sedikit kesusahan,karena posisi tubuhnya disebelah tubuhku. Akhirnya kutawarkan sesuatu. “Mbak kalau kesusahan mijit punggung, Mbak dudu aja di kaki saya… Biar gampang mijitnya.”,tawarku. “Ohh…nggak apa-apa ya,mas…? Maaf ya sebelumnya….”jawabnya. “Santai aja, Mbak.”jawabku. Mbak Lia mulai menduduki pantatku dan mulai memijat. Aku semakin bertambah horny, karena tindihan tubuh Mbak Lia diatas pantatku yang bergerak-gerak saat memijat. Ini membuat  “Kontol” jadi bergerak-gerak pula.
Beberapa lama kemudian, aku disuruhnya membalikkan badan.

DASSHH… Ini dia. Mana si “dedek” lagi bangun, ga pake CD pula. Sial…pikirku. “Mas…sekarang mas terlentang, bagian belakang udah, tinggal yang depan.”,katanya. “Ehh….iya…”, jawabku. Akupun membalikkan badanku. Saat aku terlentang, Mbak Lia tampak terbengong melihat boxerku seakan menonjol keatas. Aku bingung bukan main. Malu pula. Tapi ternyata…Mbak Lia merespon biasa alias positif akan pemandangan tersebut.

Dan malah menggoda. “Wahh….kenapa itu,mas burungnya…?”godanya. Aku yang sedikit malu, malah nekat menjawab seadanya. “Lagi berdiri, Mbak.. Ga tau kenapa… Minta dipijit juga kayaknya…”, balasku sambil tersenyum. Mbak Lia hanya tersenyum. Mbak Lia mulai memijat bagian kaki depanku. Sambil tidur terlentang, sempat kuintip dibalik dasternya saat dia membungkuk untuk memijat kakiku. BUSEETT….Ternyata Mbak Lia gak pake BH…!!! Kunikmati pemandangan itu sepuasnya, saat Mbak Lia tidak sadar. Payudaranya menggantung dengan indah sekali. Ini semakin memperkeras berdirinya “Kontolku”… Ahh……!!!

Mbak Lia mulai memijit di bagian paha atas hingga selangkangan dalam ku. Karena aku memakai boxer pendek pada saat itu, maka sedikit terbukalah sebuah rongga dimana tangan Mbak Lia kadang menyentuh “Guli”ku… Mbak Lia tampak memijat sambil sesekali melirik kearah bagian menonjol didepannya tersebut. Tangan Mbak Lia semakin sering menyentuh bagian selangkanganku, dan itu semakin membuat aku horny bukan main. Disaat keheningan sejenak itu, Mbak Lia kemudia nyeletuk. “Masih berdiri juga ya,mas…”,katanya. “Ga tau, Mbak…Minta dipijit juga mungkin.”,jawabku menggoda.

“Emang masnya mau saya pijitin burungnya…?” tanyanya. “Ya mau kali lah, Mbak. Kalau bisa malah gak cuma dipijit.”,sahutku dengan semangat. “Pijit aja dulu ya, mas… Soal yang lain…ya….gimana ya….”,pikirnya. “Soal biaya,nanti saya bayar 3x lipat deh Mbak. Plus saya kasih uang Tipnya.”,jawabku mupeng. “Gimana…? Mau kan Mbak lia..?”,tanyaku penuh harap-harap. “Boleh deh,mas… Asal bayar 3 kali lipat ya…sama uang tip tadi..”,katanya. “Iya…janji deh…”,kataku. Mbak Lia pun kembali memijit bagian selangkangan, dan tiba-tiba dipelorotkannya boxerku tersebut.

Maka, pastilah tampak kontolku yang sudah tegang dari tadi langsung mencuat. Akupun dalam keadaan telanjang bulat. Mbak Lia mulai memijit batang kontolku. “Wahh…besar ya kontolnya,mas.”,katanya. Aku hanya mengangguk menahan nikmat dan ke enaan. “Mbak,dibuka juga dong bajunya. Biar sama-sama telanjang juga.”,pintaku. “Nanti ada org gimana, mas.”sahutnya. “Gak ada kok. Rumah lagi sepi ni.

Tenang aja, Mbak.”,jawabku. Mbak Lia pun mulai melucuti dasternya, hingga CD yang ia pakai. Kulihat kali ini, kemolekan tubuh Mbak Lia yang dari tadi membuatku penasaran. Payudaranya kulihat cukup besar,sekitar 35. Puting berwarna coklat, dan bagian bawahnya, ada sedikit bulu jembut yang menghiasi. Lalu, Mbak Lia kembali duduk disamping tubuhku sambil kembali memijit-mijit batang penisku. Akupun mulai menjamah payudaranya yang masih kenyal itu, dan meremasnya.

Lia Tukang Pijit Janda Yang Nikmat

Aku benar-benar horny saat itu. Saat memijit kontolku, kuminta Mbak Lia sedikit membungkuk untuk dapat kulihat memeknya. Sekalian agar ia bisa mengulum kontolku. Langsung saja, ia lumuri kepala kontolku dengan ludahnya dari kepala hingga batangnya menggunakan lidahnya.

Dijilatinya kepala kontolku. Geli dan nikmat…. Lalu, dikulumnya kontolku dari kepala hingga batangnya. Enak sekali sepongan Mbak Lia ini, pikirku… Saat ia membungkuk menikmati batang kontolku,kumainkan bibir memeknya, dan perlahan-perlahan kumasukkan jariku kedalamnya. memeknya Mbak Lia sudah basah, pikirku….  Maklum lah, janda muda…pastinya sudah haus akan kepuasan…pikirku… Mbak Lia semakin binal mengulum kontolku. Dan aku pun semakin bernafsu untuk menjilati memeknya Mbak Lia. Beberapa menit kemudian, kuminta Mbak Lia yang terlentang.

Diapun menurut saja. Dia membuka pahanya, dan langsung kusosor memeknya yang sudah basah itu. Kumainkan dengan lidah klitorisnya, Mbak Lia pun menggelinjang sambil ke enak'an. Akupun semakn bernafsu menikmati gurihnya memek Mak Lia. Mbak pun tampak sangat menikmati.

Selang beberapa menit kemudian, kusudahi adegan jilmek tersebut, dan kuminta Mbak Lia untuk menungging. Tanpa ragu-ragu, Mbak Lia yang juga sudah dibutakan dengan nafsu hanya menurut saja. Setelah dalam posisi nungging seperti itu, langsung kutusukkan kontolku. Kutembus bibir memenya yang sudah dilumuri cairan dari dalam lubangnya.

Slruuup…. Terbenamlah kepala kontolku,dan kudorong hingga seluruh batang kontolku tertanam semuanya. Mbak Lia langsung mendesah. “Aaaahhh….”desahnya. Akupun bergerak perlahan-lahan. Memeknya Mbak Lia terasa hangat sekali, dan masih terasa sempit. “Aaahhh….Aaahh…..Aaaaahh…….ohh……”,de sah nakal Mbak Lia. beberapa menit kemudian, Mbak Lia berkata sambil terbata-bata manahan nikmat. “Aaaahh…terusin…mas….lebih..ce..pat…”,rintih nya. Akupun menggoyangkan pingangku semakin cepat. “Saya…ahhh…..mau….keliar…mas….aaaahh….a aaah…..”,katanya lagi. Dan benar saja,beberapa detik kemudia Mbak Lia mengerang penuh nikmat. “Maass….saya…aaaaahhh….keluar….aaaahhh……. Aaaahh…….”, erangnya. Kurasakan ada cairan hangat yang melumuri penisku didalam memeknya.

Setelah itu, akupun meminta Mbak Lia yang berada diatas. Aku segera terlentang,dan Mbak Lia pun segera mengangkangi kontolku. Diarahkannya penisku menuju lubangnya,dan setelah pas ditekannya tubuh Mbak Lia turun hingga kontolku terbenam seluruhnya didalam lubang kenikmatan Mbak Lia.
Mbak Lia tampak memejamkan mata sambil bergoyang naik-turun.

Sesekali dia bergerak memutarkan pingangnya. Dia bergoyang sambil tak henti-henti nya mendesah. Kulihat, ia sambil sesekali meremas sendiri payudaranya. Binal sekali janda ini…..pikirku……! beberapa menit Mbak Lia bergoyang diatas tubuhku, dia pun mencabut kontolku. Akupun memintanya terlentang, agar aku bisa menggoyang tubuh sintalnya itu dari atas.

Mbak Lia pun terlentang sambil membuka selangkangannya, seakan mempersilahkan kontolku untuk memasuki “pintu rumah”nya…. Tidak menuggu waktu, aku segera membenamkan kontolku dan bergerak pelan. Sambil sesekali kuciumi tetek Mbak Lia, dan kuhisap pentilnya yang menegang karena terangsang. Lalu, kutaruh kedua kakinya diatas pundakku,dan kugoyang-goyangkan. “Aaaahh……mass…….aaahhhh…….eemmmmm…..”, desahnya. Kuturunkan kakinya,dan kembali kuhisap pentilnya yang sangat menggoda itu. Kaki Mbak Lia tampak merangkul pinggulku dan membantu doronganku. Tidak berapa lama, kembali Mbak Lia mengerang.

“Aaaah….Maass……Ouugghh……..”erangnya.
Akupun paham, bahwa dia akan mendapat orgasme yang kedua. Benar saja… Langsung saja tubuhnya menggeliat dan tidak mulutnya mengeluarkan desahan panjang. Matanya terpejam. Sedangkan aku, masih menggoyang perlahan, sambil menjilati pentilnya. Beberapa menit kemudian, giliranku yang akan mencapai “ledakan”. Aku bergerak dengan berirama. Dan kucabut kontolku, lalu aku terlentang, dan kuminta Mbak Lia untuk mengoralnya. kan gak lucu di dalam memeknya,  Secara Mbak Lia kan janda. Bisa habis lah aku. Mbak Lia langsung tanggap, ia langsung mengocok penisku dengan cepat. sesekali dihisapnya dan dijilati kepala kontolku. Cairan kental itu sudah hampir mencapai ujung.

“Mbak…..mau..keluar….isep…mbak….aaaaaaaaaaahh….. ..”,desahku. Mbak Lia langsung menghisap kepala kontolku,dan tangannya mengocok batang kontolku. CROOooTT…CROOOoTTT…CRROOoT…CROOooTTT…!!! Muncratlah cairan kental itu memenuhi rongga mulut Mbak Lia. Kulihat dia masih menghisap kontolku. Aahhh……gila……Enak sekali sepongan Mbak Lia ini…..!!! Mbak Lia masih terus mengulum kontolku,hingga tidak ada sperma yang meleleh atau tersisa. Ditelannya spermaku itu.

Setelah prosesi “pelemasan otot” itu kelar, Mbak Lia berpakaian, lalu beristirahat sejenak. Beberapa menit kemudian, ia melanjutkan kembali memijat bagian tanganku. Setelah selesai memijat, aku memberinya uang. Tidak perlu disebut berapa ya…. Setelah itu kami berbincang sejenak. Kulihat jam sudah menunjukkan pukul 11 siang. “Mbak lia…enak sekali tadi…kapan-kapan boleh kan saya panggil lagi.”,tanyaku. “Boleh koq,mas….Saya juga kebetulan sudah agak lama nggak begituan. Jadi tadi saya puas sekali,mas…”jawabnya. Tidak lama kemudian,Mbak Lia pun pamit pulang, dan aku beristirahat dengan puas.

Lia Tukang Pijit, Yang menceritakan seorang wanita yang sudah lama menjada dan membutuhkan biaya hidup dengan cara berpropesi sebagai tukang pijit. 

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.