Cerita Sex Hubungan Pekerjaan
Cerita Sex Hubungan Pekerjaan- 1 Jam lebih Rini sudah menunggu Rio. Sebelum akhirnya Rio tiba dan datang menemui Rini yang sedang duduk di kursi sofa, di lounge sebuah hotel berbintang di daerah Jakarta. Mereka akan mendiskusikan masalah pekerjaan tahunan dari bagian Treasury yang harus dikerjakan Rini. Seperti diketahui, Rio yang berkebangsaan Amerika adalah Treasury Head dan Rini adalah unit manager pada bagian Treasury sebuah cabang Bank Asih di derah Jakarta. Agar lebih santai mereka sepakat untuk bertemu setelah jam kantor di hotel itu untuk mendiskusikan masalah pekerjaan.
Rio datang dengan penampilan yang menarik sore itu, membuat Rini agak terpesona. Rio mengenakan kemeja favoritnya. Rio tersenyum menyapa Rini, mereka berjabat tangan seperti umumnya dua orang profesional yang akan membicarakan masalah pekerjaan. Rio duduk di depan Rini, lalu setelah sedikit berbasa-basi, mereka membuka map masing-masing dan mulai membicarakan tentang pekerjaan.
Namun di sepanjang pembicaraan, Rini sering memergoki mata Rio tidak selalu menatap kertas-kertas kerja mereka. Pandangan Rio sering mengarah ke tempat-tempat lain di tubuh Rini. Sekedar info saja agar para pembaca mudah menghayati cerita sex ini, Rini memiliki tinggi 165cm, berat 49kg, bentuk badan slender, tidak serba mungil, rambut pendek seleher, dengan wajah blesteran Indo Arab, Rini juga mengenakan kacamata minus. Sore itu Rini mengenakan blezer Biru dan rok mini dengan warna yang sama. Di balik blezer itu, Rini mengenakan kaos ketat warna Merah, yang membuat kecerahan warna kulitnya lebih menonjol.
- Baca Juga:Antara Kaget Bercampur Senang
Rini sering memergoki pandangan Rio mengarah ke paha yang putih mulus itu. Kadang-kadang mata nakalnya itu juga sering ter arah pada leher dan kaos Rini yang memang sedikit agak ketat, meskipun tertutup blazer. Pada satu saat, pandangan mata mereka bertemu. Rini mengerutkan dahi dan Rio malah tersenyum nakal.
Cerita Sex Hubungan Pekerjaan
“Kayaknya kita kurang serius membicarakan masalah ini ya Rio? tanya Rini.
“Memang agak sulit dengan situasi seperti ini” jawab Rio sambil menatap dalam mata Rini.
“Terus harus gimana donk?” tanya Rini lagi.
“Kita teruskan besuk pagi aja ya Rini, bukankah sekarang sudah di luar jam kerja?” jawab Rio dengan santai.
“Oke, ide yang bagus, kalau gitu aku pamit pulang aja ya?” kata Rini sambil mengemasi kertas kerjanya.
“Tunggu dulu, atau mungkin bisa kita bicarakan sambil makan malam?” ajak Rio.
Rini sempat berpikir sejenak memikirkan apa yang ada di otak Rio pada waktu itu. Namun demi karirnya, Rini mencoba membuang jauh-jauh pikiran buruknya. Rio bertanya sekali lagi pada Rini sambil mengangkat bahunya.
“Gimana Rini?” dia lantas tersenyum yang membuat hati terpikat.
“Okelah kalau begitu Rio” jawab Rini agak berat setelah berpikir cukup lama.
CeritaPlusPlus757Kemudian Rio mengajak Rini naik ke mobilnya. Mobil inventaris dari kantornya yang dipakai sehari-hari Rio. Rini menyukai interior dalam mobilnya benar-benar menggambarkan kepribadian Rio, kepribadian yang khas seorang pria asli dari Amerika. Rini tidak henti-hentinya memandang setiap sudut dan mengagumi selera Rio. Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak bicara. Rini memandangi Rio yang sedang menyetir. Wajah, tubuh dan cara berpakaian Rio hingga otot-ototnya pun dia amati.”Hmmmm…sangat mengagumkan” gumam Rini. Dan upssshh!!! Rini buru-buru mengalihkan padangnya ketika Rio mengetahui kalau Rini mencuri padang ke arahnya. Rio pun tersenyum nakal pada Rini, naluri kelakiannya mengetahui kalau Rini mengaguminya. Lalu Rio kembali menatap asal jalanan sambil tersenyum puas karena merasa menang.
Mereka sampai di sebuah hotel berbintang, tiga yang terkenal dengan masakan yang enak di restorannya. Rio membukakan pintu untuk Rini. Entah sengaja atau tidak mereka bertabrakan sehingga nenen Rini tersenggol oleh lengan Rio. Rini mencoba tetap santai setelah kejadian itu namun Rio tersenyum nakal. Seolah tahu kalau puting Rini langsung menegang karena tersentuh dengan lengannya tadi. Lalu keduanya berjalan masuk ke hotel.
Anda ingin Nonton Bokep Online Gratis
klik Sini : filembokep.net
“Oya Rini, kita makan di Cafe atau memeasan room service saja?” tanya Rio ketika mereka sampai di lobby hotel.
Rini menyukai cara pendekatan Rio padanya, tenang tapi ter arah.
“Terserah kamu saja Rio…” jawab Rini singkat sambil melirik ke arah Rio dan mengedipkan matanya, tanda setuju dengan apa yang di pikirkan Rio. Lagi-lagi Rio tersenyum nakal kepada Rini.
Kemudian Rio berjalan menuju meja resepsionis untuk check-in. Kamar yang mereka pesan berukuran sedang, tapi tetap mewah untuk hotel berbintang tiga. Di dalamnya ada ranjang berukuran king size tertata rapi menghadap ke set televisi. Dinding di belakang set televisi itu di lapisi oleh cermin lebar sepenuh tembok, sehingga ruangan itu terkesan lebih luas. Seacara reflek, Rini melirik ke cermin itu, merapikan rambutnya serta membetulkan kacamatanya dengan jari tengah. Rio merebahkan tubuh tegapnya ke tempat tidur dan mengamati Rini yang sedang bercermin
“Kamu mau pesan apa?” tanya Rio sambil mengangkat gagang telpong di meja kecil di samping tempat tidur.
“Apa kamu mau langsung makan?” jawab Rini sambil masih bercermin.
Rio terdiam karena tidak mengharapkan reaksi Rini yang begitu direct. Rini membalikkan badannya dan menatap ke mata Rio. Dengan perlahan Rini membuka satu persatu kancing blazernya, sambil berjalan mendekati tempat tidur. Setelah semua kancing blazernya terbuka, Rini menaikkan lututnya kirinya ke atas tempat tidur, dan menurunkan blazernya hingga kedua bahunya terlihat karena kaosnya yang ketat itu tanpa lengan. Mata Rini menatap Rio sambil sedikit menyipit.
Secara reflek, Rio pun mulai membuka kancing kemejanya, sedikit demi sedikit menampakkan dadanya yang bidang menggairhkan. Lalu dengan cepat, Rio melepaskan kemejanya dan melemparkannya ke samping, lalu bangkit dan langsung memeluk tubuh Rini, dan menghujamkan ciuman-ciuman mesra ke leher Rini. Rini mengadahkan kepala menikmati ciuman dari Rio yang mesra dan bertubi-tubi itu. Rio melepas blazer Rini dan melemparkannya ke sudut ruangan, tangan Rio juga melepaskan kaos dari tubuh Rini yang mulai berkeringat. Lalu Rio menarik Rini hingga kini rebah terlentang di tempat tidur itu.
Cerita Sex Hubungan Pekerjaan Dengan Rio
Rini sangat menyukai cara Rio, dan dia begitu menikmati. Rini hanya terlentang pasrah di tempat tidur itu. Menatap Rio yang kini sedang berdiri di dekat tempat tidur sambil memandangi tubuh Rini yang terlentang dengan hanya BH putih dan rok mini yang agak tersingkap ke atas.
Rini memandang Rio dengan setengah terpejam dan jari-jarinya bergerak kebibir Rini, merabanya, dan turun pelan-pelan ke leher, dada, mengait bagian leher kaosnya dan menariknya sedikit. Tangan Rini yang lain bergerak mengusap pinggangnya, bergerak ke tengah berhenti di bawah sabuknya. Rio segera bereaksi, naik ke atas tempat tidur dan mulutnya mulai menciumi wajah Rini. Tangan Rini bergerak untuk melepas kacamatanya, Rio menggerakkan hidungnya menelusuri telinga sebelah kiri Rini, menurun ke leher Rini.
“Oohhhh… aahhh…aaahhhhh…” Rini kegelian hingga menggelinjang dan mengangkat bahu kirinya yang segera dijilati oleh Rio. Hangat dan lembabnya lidah Rio terasa begitu nikmat, membuat Rini kian pasrah saja.
kalian Juga Bisa Download Film Bokep Gratis Tanpa Bayar
Disini Linknya: download.filembokep.net
Rio menarik tali BH Rini ke bawah agar lidahnya lebih leluasa menjilati pundak Rini yang mulus, bulu kuduk Rini berdiri semakin tegak merasakan itu semua. Rio semakin bergairah, kedua tanganya membuka kancing BH Rini yang ada di bagian depan. Dan terpampanglah kedua Nenen Rini yang tidak terlalu besar, namun padat kencang berwarna kuning cerah. Dipuncaknya terdapat dua tonjolan kecil merah jambu yang dikelilingi lingkaran coklat muda.
Sejenak Rio terdiam menyaksikannya. Rini hanya dapat menatapnya dengan tatapan meminta, menatap tegapnya tubuh Rio dan membayangkannya melekat, menyatu dengan tubuhnya. Dengan mata yang terfokus pada wajah Rini, kedua tangan Rio mulai bergerak menyentuh kedua Nenen Rini, meraba, mengelus dan meremasnya lembut. Rini semakin meyipitkan matanya dan memandang mata Rio dengan memelas.
“Ooahh… oaahhh” Rini merintih lirih.
Rio menanggapinya dengan cara meletakkan bibirnya melingkupi ke puting kiri Rini. Membuat Rini agak terhenyak dan menggeliat kencang, namun lengan Rio memeluk pinggang Rini dan menahannya bergerak lebih jauh. Kini mulut Rio dengan perlahan namun tegas segera memainkan puting kiri Rini. Lidahnya mengait-ngaitnya, bibirnya menghisap-hisapnya.
“aaaaghhh… oohhhh… Riooo” Rini merintih sambil menyebut nama Rio.
Mulut Rio menarik puting kiri Rini dan membiarkannya terlepas. Rio dapat melihatnya menjadi bersemu merah dan tegak keras. Puas dengan permainannya itu, Rio beralih ke puting kanan Rini, mencium dan menggigitnya pelan.
“Ooohhh… hhhmmmm” Rini kembali mengerang ketika merasakan putingnya mendapat jilatan dan hisapan Rio, sementara puting kirinya yang telah mengeras itu berada di antara telunjuk dan ibu jari Rio yang memutarnya dengan lembut.
Kedua alis Rini seperti menyatu di tengah keningnya yang mengerut, kedua matanya terpejam, gigi Rini terkatup namun bibir Rini setengah terbuka, mengerang dan mendesah nikmat yang datang bertubi-tubi pada bagian tubuhnya yang paling sensitif tersebut. Rio mulai merasakan betapa puting kanan mulai mengeras di dalam mulutnya yang dengan rakus menghisapnya. Desahan dan erangan Rini terdengar memenuhi ruangan kamar hotel.
Dengan tiba-tiba Rio menarik tubuh Rini hingga terduduk. Rio duduk dibelakang tubuh Rini sambil mulutnya menjilati bahu dan leher Rini yang halus. Ibu jari tangan Rio menjentik-jentik puting kanan Rini sementara telunjuknya bermain di puting kiri Rini, membuat Rini kian tak Mampu menahan birahi. Apalagi ketika tangan kiri Rio menarik rok Rini keatas, lalu menyelipkan dibalik CD nya. Dengan segera telunjuk kiri Rio menemukan bibir memek Rini yang telah basah, lalu jari nakal Rio itu bergerak seperti mencungkil-cungkil, menggesek bibir memek Rini, dan menyentil-nyentil tonjolan kecil diatasnya. Rini menggelinjang-gelinjang tidak karuan menahan semuanya. Rasanya sulit untuk bernafas. MAta Rini agak terbuka, dan dari cermin di dinding itu Rini bisa melihat betapa rakusnya Rio memainkan tubuhnya yang sudah hampir tanpa daya itu.
Cerita Sex Hubungan Pekerjaan Yang Tak Bisa Ku Lupakan
“Aahh… oohhhh… aduuhhhh” Nina hanya bisa merintih untuk bertahan dari serangan-serangan birahi Rio. Tanpa Rini duga sebelumnya, jari tengah tangan kiri Rio menyusup masuk ke lubang pepeknya, aaaahhh….” Rini menjerit tertahan ketika merasakan sesuatu memasuki tubuhnya lewat tempat sensitif itu. Rio semakin buas, jarinya bergerak berputar-putar di dalam lubang Pepek Rini sementara tangan kanan Rio terus meremas-remas nenen Rini yang kini terasa ngilu tapi nikmat sekali.
Rini menyandarkan kepalanya di dada Rio, tubunya bergetar tidak kuat menahan birahi. Tangan Rini bergerak ke atas dan memeluk leher Rio.
Rupanya mereka berdua sudah sama-sama menginginkannya, Rio segera menghempaskan tubuh Rini hingga kembali terlentang di tempat tidur. Dengan sigapnya Rio menyingkapkan rok Rini, mengangkangkan lebar kedua pahanya, dan meyingkapkan CD Rini kesamping. Tangan Rio menuntun batang kemaluannya yang tegang mengeras itu menyentuh bibir pepek Rini yang sudah sangat basah oleh cairan pepeknya, lalu dengan segenap kekuatan Rio menekan batang kemaluannya dalam-dalam.
“Ooghhh…oohhh… aaahhh… ooohhhhh” jerit Rini ketika merasakan sodokkan batang kemaluan Rio menggesek dinding pepeknya Rini dengan kencang dan bertenaga. Kedua tangan Rio dengan gemas terus meremas-remas nenen Rini sambil sesekali memutar putingnya.
Rini hanya bisa merintih dan mendesah keras, kepala Rini terlempar ke kanan dan ke kiri merasakan sodokkan-sodokkan batang kemaluan Rio yang membuatnya lupa diri karena di gempur kenikmatan yang begitu luar biasa. Gerakan-gerakkan Rio makin lama semakin cepat hingga tubuh Rini terhentak-hentak. Matanya terpejam tidak mampu menahan kenikmatan yang luar biasa ini. Kedua tangan Rini mencengkram bantal yang tertindih kepalanya.
“Ooohhh… nikmaattt.. seekaaalliiii… Rioo…” Rini benar-benar tidak mampu menahannya lagi, sungguh nikmat.
Rini dapat merasakan dinding pepeknya kian licin karena cairan pepeknya yang semakin banyak membanjirinya. Namun disitu batang kemaluan tetap dengan perkasanya mengikis dinding-dindingnya. Rini meringis keenakkan sementara Rio terus saja menyodok-nyodokkan batang kemaluannya yang besar dan keras itu ke lobang pepeknya Rini, sambil meremas kedua nenennya dan menatap wajah Rini yang kini ngerekspresi menahan nikmat. Rini tidak tau bagaimana dengan Rio, namun Rini benar-benar sudah tidak mampu lagi untuk bertahan. Gelombang-gelombang kenikmatan terlalu liar menerpa tubuhnya yang kini tidak berdaya. Otot-otot pepeknya terasa menegang berusaha menjepit kejantanan Rio yang terus saja bergerak keluar masuk.
Akhirnya, sesuatu terasa meledak di sekujur tubuh Rini. Tubuhnya melengkung, punggungnya terangkat dari tempat tidur. Untuk sesaat seluruh tubuhnya mengejang. Gigi Rini bergemetaran menahan hantaman gelombang kenikmatan itu. Pandanganya seperti kabur dan semuanya tampak putih. Lalu kenikmatan yang begitu intens itu menerenggut seluruh energinya. Rini pun lemas tidak berdaya di tangan Rio.
Kini tinggal lah Rio yang dengan leluasa dan rileksnya membolak-balikkan tubuh Rini. Setelah Rio menyemburkan semua ke dalam pepek Rini, barulah ia berhenti. Lambat laun Rini mulai pulih. Terlihatlah plafon kamar yang berwarna putih dan bertekstur. Seluruh ruangan pun mulai terlihat jelas. Namun kenikmatan itu belum hilang. Kenikmatan di sekujur tubuhnya yang baru saja Rio berikan.
Rini menengok ke samping dan mendapati Rio terbaring disitu menatap wajah Rini yang masih nampak kelelahan. Lalu mereka berdua saling berpelukkan. Tubuh mereka terasa amat menghangatkan. Lalu mereka terbang ke alam mimpi.

Leave a Comment