Dita Yang Montok
Cerita PlusPlus757:Dita Yang Montok- Kisah nyataku ini terjadi beberapa tahun yang lalu. Pada saat itu aku baru saja mendpatkan pekerjaan di kota Surabaya, sehingga untuk mendapatkan sebuah rumah dalam waktu yang singkat tidaklah mungkin, terus terang saja aku belum pernah mendapatkan tabungan yang cukup untuk membeli sebuah rumah. Akhirnya aku pun putuskan untuk kost di daerah yang tidak jauh dari kantorku.
Akhirnya aku pun mendapatkan tempat kost yang aku inginkan, perlu para anda ketahui, nenek tempat kostku mempunyai seorang cucu perempuan yang saat itu masih duduk dibangku sekolah SMP, namanya Dita. Dita adalah sosok perempuan yang mengasyikkan jika aku dilihat, walaupun ia masih SMP, Dita memiliki bentuk tubuh yang montok. Oh iya, sebelumnya perkenalkan nama ku Bagas, usia 26 tahun seorang karyawan di salah satu perusahaan swasta di kota Surabaya.
Singkat ceritanya, tidak terasa dua tahun sudah aku sudah menjalani masa kostku dan karena aku termasuk orang yang supel, aku cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar. Dan karakter aku itu yang membuat Dita yang semakin hari semakin ranum dan seksi, tergila-gila pada diriku. Sampai pada suatu hari aku memberanikan diri untuk mencium bibirnya Dita, diluar dugaanku Dita membalas ciumanku dengan buasnya.
Sampai pada akhirnya aktivitas tersebut menjadi kegiatan rutin antara aku dengan Dita, sepulang dari kantor atau memanfaatkan waktu-waktu yang sepi di kost-kostan. Setiap melakukan hal tersebut, tanganku yang bandel juga tidak lupa menyelinap di balik CD nya dan sedikit menggesek-gesekan jari telunjukku di ujung clitorisnya Dita. Dan walaupun aku hanya menggesekkan, kontolku tetap aktiv, aku selalu saja mencapai klimaks. 4 tahun ternyata waktu yang sedikit untuk menikmati hal tersebut. Sampai pada akhirnya aku harus keluar dari kost-kostan dan Dita harus kuliah di kota dingin Malang.
- Baca Juga:Lia Tukang Pijit Nikmat
Setelah sekian tahun lamanya aku tidak mendengar kabar tentang Dita, Pada tahun 2001 aku iseng-iseng saja menelpon Dita di rumahnya dan alhasil dari obrolan pertama di telepon itu, aku dapatkan alamat ia di Malang dan juga ia memberikan nomor HP. Akhirnya kita berdua sering kontak via HP, walaupun aku sudah berstatus tidak bujang lagi, tetapi ia tetap saja bilang kalau masih sayang sama aku. Sampai akhirnya kita janjian untuk ketemu saat akhir pekan, karena setiap hari itu Dita selalu rajin pulang ke Surabaya.
Dengan perasaan debar-debar akhirnya aku bertemu dengan sosok Dita yang dulu masih lugu dan centil, sekarang tumbuh menjadi gadis yang begitu sexy, sintal dengan ukuran bra 33. Wow, semakin aku menelan ludah setiap melihat tubuhnya yang sexy.
Dita Yang Montok Anak Nenek Kost
“Mas Bagas, gimana kabarnya,” tanya Dita merusak pikiranku yang jorok.
“Eeee.. baik, bagaimana dengan kamu Dita?” jawabku dengan gugup.
Kita berdua bercerita panjang lebar setelah sekaian lama tidak bertemu, Sampai pada akhirnya aku harus antar ia balik ke rumahnya di sUrabaya.
“kamu sudah punya pacar Dita..?” tanyaku.
“Belum nih Mas.. ” jawab Dita dengan tegas
“O yah, kamu masih inget tidak saat aku ajarin kamu berciuman dulu?” godaku.
“Ihh, Mas Bagas emang bandel kok,” sambil mencubit lenganku.
“Aduhh..,” aku meringis kesakitan.
“Kamu mau tidak kalau aku terusin pelajarannya,” tanyaku sekali lagi.
“Mau aja lah asal Mas yang ajarin,” jawaban Dita yang membuat aku merinding.
Setelah kita bercanda-canda dan bercerita panjang lebar, pada akhirnya aku menawarkan diri untuk ketemu minggu depan.
“Dita, minggu depan kita ketemu lagi yuk,” ajakku.
“Boleh deh Mas Bagas..,” jawab Dita dengan ceria.
“Tapi kita nginep ya di hotel?” godaku lagi.
“Lho kok di hotel, ngapain?” Dita balas bertanya.
“Katanya tadi mau lanjutin pelajarannya..” aku terus mencoba memancing .
“Nakaall Mas Bagas.. nih ya.....”
Tanpa terasa akhirnya Dita harus turun di dekat rumahnya.
“Makasih ya Mas, sampai bertemu minggu depan ya,” sambil pamit Dita mengecup pipiku.
Dita Yang Montok Yang Masih Lugu
Darah mudaku bergejolak menerima sentuhan bibirnya yang mungil itu. Aku perhatikan lenggak-lenggok pinggulnya meninggalkan mobilku, aku terus membayangkan seandainya aku bisa menikmati tubuh kamu Dita, aaduh betapa bahagainya diriku nantinya.
Satu minggu tanpa terasa aku lewatin, sampailah aku ketemu dengan Dita. Kali ini aku sudah booking hotel berbintang di pinggiran kota untuk satu malam saja. Tepatnya pada pukul 16.30, sepulang dari kantor aku bergegas mengemasi pekerjaan aku dan meluncur di tempat yang sudah kami sepakati bersama.
Bulu kudukku merinding pada saat Dita memasuki mobilku, parfumnya yang harum sontak menggugah saraf laki-lakianku.
Tanpa pikir panjang lagi, aku segera meluncur ke hotel yang sudah aku booking sehari sebelumnya. Jujur saja, buat Dita ini adalah hal yang pertama masuk di hotel, sehingga ia sedikit kaku untuk lingkungan yang ada. Setelah chek ni, aku bergegas menuju lift untuk langsung menuju ke kamar.
“Mas, aku mau mandi dulu ya..?” pinta Dita.
“Oke silahkan, apa mau mas Bagas mandiin,” godaku.
“Ngak udah mas, nakal Mas Bagas nih..” sambil menjawab seperti itu, Dita bergegas menuju kamar mandi, dengan dibalut sehelai handuk, Dita berjalan menuju kamar mandi.
Mataku benar-benar tidak bisa berkedip melihat pemandangan tubuh Dita yang benar-benar menggairahkan. Pikiranku terus saja melayang saat membayangkan kemolekan tubuhnya.
20 menit kemudian Dita keluar kamar mandi dengan menggunakan gaun tidur yang tipis, hingga membuat darah sex aku naik ke ubun-ubun. Akan tetapi aku terus berusaha mengendalikan gejolak nafsuku di depan Dita karena memang di depan dia, aku adalah figur seorang kakak yang baik.
“Oh ya Dita, kamu mau makan apa sekalian pesannya ya,” tanyaku untuk menutupi gejolak batinku.
“Terserah Mas Bagas aja deh,” jawabnya.
Singkat cerita, waktu sudah menunjukkan pukul 20.15 menit dan tanpa terasa kami sudah bercerita panjang lebar, untuk sekedar melepas kangen saja. Kita berdua bercengkrama dan bercanda cerita tentang apapun, sampai pada akhirnya..
“Eh, Dita serius mau lanjutin pelajarannya,” tanyaku dengan serius.
“iya Mas Bagas,” jawabnya.
“Dita..” aku tidak meneruskan pertanyaanku karena dengan cepat aku langsung menyerbu bibir Dita yang mungil.
“Mas..” Dita mendesah sambil memeluk badanku dengan erat, tangannya yang bandel mulai meraba-raba daerah sensitifku, sesekali memainkan rambutku.
Dita mengelus-mengelus kudukku sehingga membuat aku terangsang hebat.
Lidah Dita yang nakal, sesekali mengimbangi lidahku yang menjelajah seluruh bibirnya. Jemariku mulai bergerilya untuk melepas pengait BH Dita. Pengait BH nya terlepas,
“Mas.. kamu memang guru yang baik,” sambil aku benamkan dalam-dalam wajahku dalam belahan toketnya yang montok itu.
Sekitar 15 menit aku bercumbu dengan Dita, aku semakin penasaran dengan apa yang ada dibalik CD nya. Dengan perlahan aku mulai berusaha membuka CD yang dikenakan oleh Dita dan kegiatan aku semakin mudah karena Dita berusaha mengangkat pantatnya sehingga memudahkan aku untuk mempreteli CD nya. bulu yang tumbuh masih halus sekali dan baunya wow.. harum sekali dan juga segar, tanpa berpikir panjang aku segera membuka kedua pahanya dan mengunci dengan lenganku sehingga pepeknya Dita yang masih merah terpampang jelas didepan mata ku. Dengan usapan halus, lidahku yang bandel mulai menjelajahi setiap permukaan pepek Dita.
“Oh.. Mas Bagas.. asyik sekali Mas.. uuuuhh,” rintih Dita saat lidahku mulai nakal menguak lubang surganya.
Tubuh Dita seperti cacing kepanasan menerima setiapa jilatan lidahku, hisapan lidahku dan sesekali mengangkat pantatnya saat lidahku masuk ke dalam-dalam lubang pepeknya. Sesekali tangannya meremas rambutku, dan hal itu membuat gairahku semakin naik saja.
“Mas Bagas.. enak sekali Mas.. oh.. kenapa nggak dari dulu-dulu Mas,” pinta Dita sambil melihat lidahku sedang mengerjai pepeknya.
Clitorisnya yang semakin membesar memudahkanku untuk membuat Dita melayang. Ternyata Dita tipe orang yang mudah orgasme terbukti 15 menit pertama dia mengerang sambil menaik turunkan pantatnya.
Dita Yang Montok Membuat ku Tidak Mampu menahan nafsuku
“Mas.. Mas Bagas, Rini kebelet pipis Mas.. aduh,” rintih Dita.
“Pipis aja Dita di mulut Mas..” jawabku.
“Mas.. aduh.. Dita nggak kuat lagi..” Dita menjerit lirih sambil menggapitkan kedua pahanya di kepalaku. Dengan cekatan aku pun langsung membuka lebar mulutku dan cairan yang keluar begitu banyak sehingga aku merasakan minum air putih.
“Aduh Mas Bagas.. sudah Dita.. uuuh.. nikmat sekali Mas, kamu memang pandai dalam bercinta aahhhh..” kata Dita.
Aku tidak mendengar kan rintihannya, karena aku berkonsentrasi untuk ronde berikutnya karena aku ingin Dita merasakan nikmatnya bercinta dengan aku.
Setelah cairan yang keluar aku berihkan dengan cara aku jilatin, Dita kembali terangsang saat clitorisnya aku gesek dengan batang kemaluanku.
“Wow.. panjang sekali Mas Bagas.. aku suka banget.”
Dita mulai menjilati dan mengulum batang kemaluanku, sepertinya ia sangat pandai mengoral cowok
“Aaaahh.. Dita.. kamu pinter tuh,” erangku.
Dita tidak menjawab pujianku, ia semakin lahap menelan dan mengulum serta meghisap batang kemaluanku, aku pun merem melek setiap batang kemaluanku masuk dalam mulutnya.
Dasar aku, dengan kecepatan yang tidak diduga, aku langsung meraih selangkangan Dita sehingga posisi kamu menjadi 69. Kita berdua saling membuat rangsangan pada daerah-daerah yang sensitif.
Tidak selang berapa lama,
“Mmm, Mas Bagas.. Dita.. pipis lagi.. oh..” Dita menggelepar kedua kalinya menerima serangan lidahku dan aku pun tidak tinggal diam, segera aku membalikan tubuh Dita dihadapanku dan,
“Dita kamu masih virgin?” tanyaku.
“Mungkin sudah tidak Mas,?” jawab Dita.
Lalu aku sedikit kaget sembari bertanya,
“Siapa yang lakukan pertama?”
“Aku pernah jatuh Mas, terus ngeluarin darah.”
Sambil membisikna kata mesra, aku berusaha mencari lubang untuk kontolku yang sudah mulai tegang. Dengan bantuan sisa cairan yang masih ada di sekitar pepek Dita, batang kemaluanku mulai mencari lubangnya dan bluusss.
“Mas Bagas.. enak sekali sayang.”
Dita membantu mempermudah aku untuk memasukan batang kemaluanku, sambil mendekap tubuhku, ia mulai memutar pinggulnya, sehingga batang kemaluanku terasa ada yg memijit.
“Ooh.. Mas Bagas, kenapa tidak dari dulu mas berikan kenikmatan ini pada ku..” Dita menglinjang-nglinjang menerima sodokan batang kemaluanku.
“sluuk sluukk sluuk” batang kemaluanku keluar masuk dalam lubang pepeknya yang sudah mulai becek dan basah kuyup.
“Mas.. Dita, pipis lagi.. aaaahh..” Dita menjerit panjang saat orgasme yang ketiga diraihnya.
Aku sudah tidak mempedulikan keadaan dia yang masih lemas setelah 3 kali orgasme, aku langsung membalik tubuh Dita sehingga posisi Dita sekarang seperti anjing. Dengan bebas aku bisa mengenjot Dita dari belakang dengan keringat bercucuran.
“Mas.. kamu memang jago.. ooh.. uuuuhh..” Dita merintih saat batang kemaluanku masuk semua sampai pangkal batang kemaluanku.
Tangannya yang halus hanya bisa mencengkeran seprei hotel saat menahan kenikmatan yang aku berikan. Pikiranku hanya satu, aku harus bisa memberikan kepuasan yang abadi untuk Dita, sehingga kalau ia butuh lagi pasti mencariku.
45 menit sudah terjadi, entah berapa kali sudah Dita orgasme. Sampai akhirnya aku sendiri sudah merasakan klimaks sudah di ubun-ubun.
“Dita.. Mas mau keluar nih..,” rintihku.
“Iya Mas, jangan dikeluarin didalam ya Mas..,” pinta Dita.
“Iyaa.. sayang.. duh, tubuh kamu benar-benar montok sayang.. uughh.”
Aku merintih saat ia mulai meggoyang untuk ke sekian kalinya, gila gadis muda yang dulu aku kenal masih lugu, sekarang sudah menjadi pasanganku untuk bercinta.
“Dita.. ohh Mas keluar..,” secepat kilat aku mencabut batang kemaluanku dan mengarahkan ke mulut Dita.
“Auwwhhh..” pejuhku menyembur diwajah Dita. Dita menjilati batang kemaluanku dengan lahap sampai tidak tesisa sedikitpun pejuhku yang keluar.
“Mas, kamu memang guru jempolan buat ku.. aku sudah 9 kali orgasme, Mas Bagas baru sekali.. kamu hebat Mas,” cerita Dita.
“Kamu suka sayang,” tanyaku.
“Suka banget Mas, kamu maukan selalu berikan kenikmatan itu untukku?” balas Dita bertanya.
“Iya sayang, aku janji memberikan kenikmatan itu lagi.”
Dita memelukku dan membimbing aku untuk ke kamar mandi, dan dalam kamar mandipun aku juga melakukan lagi sampai pukul 3 dini hari. Sangat romantis bercinta dengan mantan anak ibu kost aku dulu, karena ia juga baru pertama ini mengalami orgasme yang luar biasa dan sampai sekarang aku masih kontak-kontak sama dia, tepatnya saat dia butuh, aku segera atur jadwalku.
Dita Yang Montok Membuat ku Tidak Mampu menahan nafsuku, kisah ini menceritakan tentang anak kost yang lugu sekarang menjadi ganas.

Leave a Comment